Iqra'

Saya sedang finishing konsep proyek perubahan atasan, ketika sebaris pesan spam mampir di selular. Ekspresi pertama, saya tersenyum, apa ini waktunya ngalor-ngidul lagi? Beberapa kawan kadang datang dengan "spam" semacam ini. Beberapa orang mungkin akan berkata, "Apa sih? Gak penting amat". :)


Sesi selanjutnya mungkin akan terdengar sangat konseptual. Sungguh, ini bukan sesi jumawa, saya sedang menuliskan penguatan-penguatan untuk diri saya sendiri. Bagi saya, orang-orang harus terus berdiskusi untuk tetap "waras". Malah justru menyenangkan, tak jarang subjektifitas menjadi bijak saat dikomunikasikan, dimulai dengan berbagi pendapat tentunya. Trust me. 

"Bagaimana pandanganmu terhadap orang-orang yang kadang berkesimpulan, proyeknya goals karena rajin Dhuha atau dagangannya lancar setelah naik haji dan berdoa disana? Masihkah ada terselip rasa sombong?"

Sebuah pertanyaan sederhana yang ternyata bisa mengajak berfikir dan berkontemplasi. Terbukti, satu setengah jam setelahnya terlewatkan hanya dengan membahas pertanyaan ini. 

Mungkin semua akan mengamini bahwa tidak ada yang benar-benar tahu isi hati manusia selain dia sendiri dan pencipta. Satu-satunya yang membedakan pribadi yang satu dengan yang lain adalah caranya membuat dan atau menemukan penguatan-penguatan untuk dirinya. Di perjalanan menemukan "penguatan-penguatan" tidak melulu dihadiahi "reward" dari sang pencipta. Kita meminta, berusaha, kadang hingga jatuh bangun tapi solusi tak kunjung datang. Proyek goals ataupun dagangan lancar karena Tuhan sedang menjawab. Dhuha dan naik haji hanya sarananya. Metode "penguatan" yang dipilih si fulan/ fulanah.

Bagi si fulan dan fulanah yang sudah jatuh bangun, kerja keras banting tulang, ikhtiarnya sudah luar biasa tapi reward tak kunjung datang, jangan sekali-kali berkecil hati. Bisa jadi, Tuhan sedang menghampiri dengan cara yang lain. Mungkin lewat ujian, si fulan/ fulanah sedang diajarkan hikmah yang lain, agar ia lebih kuat, lebih banyak belajar dan lebih bersyukur dengan keadaannya. Allah menjanjikan meninggikan derajat orang-orang yang sabar.

"Sungguh Kami benar-benar akan menguji kamu sekalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjuang dan orang-orang yang sabar diantara kamu sekalian". (QS Muhammad, 47 : 31)

Sabar memang bukan perkara mudah, karenanya manusia diperintahkan untuk belajar. Agama adalah perkara yang harus di-ilmu-i. Iqra'.., baca buku, baca sekitar, mari belajar. Kalau kata ki hajar, "jadikan setiap tempat sebagai sekolah, jadikan setiap orang sebagai guru". Benar bahwa yang membedakan kita yang dulu dan kita yang sekarang adalah pemahaman. Casing mungkin boleh sama, chipnya yang berubah, sudah di-upgrade sepanjang waktu. Pada jasad yang itu-itu juga, pemahaman dan pengalaman sudah sangat kaya, baik intensitas maupun kualitas.

Yang lucu, terkadang manusia sendiri tidak sadar kalau sebenarnya ia sedang menjalani proses belajar. Ada saja masalah yang terulang, sama tetapi hadir di waktu yang berbeda. Di kali kedua harusnya solusi yang kita pilih lebih baik daripada di kali pertama. Sebab di kali pertama, kita sudah menjalani solusinya, mengenal baik aksi-reaksinya. Di kali kedua, akal akan merespon, "oh, mungkin akan lebih baik bila saya melakukan ini". Mengapa? Sebab pengalaman berbicara dan akal merespon dengan menemukan manuver baru.

Hidup itu seperti ujian kenaikan kelas. Ada level-levelnya. Ketika pelajaran kelas satu sudah khatam, sok atuh manggaa.. ka kelas dua, tiga, dst. Bagi saya, ini salah satu cara Tuhan mengajarkan hamba-Nya. Salah satu alasan mengapa islam mengajarkan habluminallah (hubungan baik dengan Allah)  dan habluminannas (hubungan baik dengan sesama manusia). Sebab untuk bisa naik level, manusia membutuhkan manusia lain untuk belajar. Tanpa interaksi dengan sesamanya, mustahil manusia bisa belajar.

Setiap dari kita memiliki masalah masing-masing dengan intensitasnya tersendiri. Kadang masalah bahkan menjebak hingga depresi. Bisa jadi masalah yang sama menghinggapi dua pribadi, si A dan si B. Faktanya, si A mampu survive melewati, tetapi si B malah memilih bunuh diri, lari dari kenyataan. Mengapa si A mampu survive? Ternyata ia menjaga dengan baik habluminannas-nya, hubungan dengan sesama manusia. Ada kawan yang bisa memberikan penguatan atau apalah. Si A memiliki sarana belajar, iqra', sedang si B tidak. Maka beruntunglah orang-orang yang senantiasa terbuka hatinya untuk belajar. Semoga kita termasuk di dalamnya. 

#hanamasa
#latepost
#bumiaccilong

7 komentar:

  1. Hehe, yes.. saya sepakat, harus berdiskusi biar tetap waras!
    Gosip termasuk diskusi kah kakak?

    :p

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gosip termasuk dungz. Hahahah.
      Gosipin yg bagus2 tawwa. #eaaa

      Delete
  2. Kapan saya bisa nulis kaya begini yaa?? >.<

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tumben banget mampir makbunjengsay. Sukses kena jebakan spamnya arya ini.

      Em..em.. Sepertinya benar malam memang ajaib, orang2 bisa mendadak sufistik, alam bawah sadar mendadak bening, padahal seharian mumet. Warasnya saia bertamu tengah malam. Hihiihi

      Delete
  3. Sepakat.Ikut belajar nih bacanya :)
    Saat ini sepertinya sarana untuk belajar semakin dipermudah. Tentu, tidak untuk mereka yang bisa belajar di sekolah atau perguruan tinggi saja. Tapi bagi siapa saja bisa belajar, secara online. Termasuk baca tulisan Teh Asriani ini :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mengolah informasi, entah besok lusa jadi brownis apa malah kue kering. #eh

      Salam kenal kg andi nugraha.

      Delete
  4. Bagus banget tulisannya.
    Setuju banget tuh.
    Setiap saat adalah belajar.
    Bahkan saat online pun belajar.

    ReplyDelete

Kawan, silahkan tinggalkan jejak,,,

 

Friend List

Flickr Images

Blogger Perempuan