Parking

Entah untuk kali keberapa saya mengolok-olok diri sendiri sebagai "robo sapiens". Menganggapnya satir bagi spesies manusia dengan rutinitas yang terjadwalisasi, manusia pabrikan - Robot. Bukan tanpa alasan, sebagai pekerja kantoran, bangun dan tidur sudah memiliki jatah waktunya masing-masing. Perkara apapun di-setting dengan durasi hingga "alarm deadline" berbunyi. Beberapa menyebutnya target dengan kesan robotiknya yang kuat, kadang menjebak, tak jarang menjemukan. Sekalipun demikian, sepertinya saya menikmatinya.

Adanya "goals" menghadirkan perasaan bersemangat menjalani hari. Ternyata menganggap setiap hari sebagai tantangan, membuat hidup terasa lebih renyah. Benar kata orang-orang, hidup itu perkara sudut pandang. Ketika ia dimaknai positif, maka raga pun memaknai positif. Setelahnya pencapaian-pencapaian pun mengikuti. Faktanya, "formula" tersebut mematangkan saya. Tidak terhitung berapa banyak hal yang terselesaikan dan ditemukan jawabnya dari titik ini.


Lalu bagaimana jika "robo sapiens" yang itu tiba-tiba berganti rutinitas?
Ketika alarm deadline beralih ke versi yang lebih dinamis? 

Saya tidak yakin bagaimana rasanya sebelum saya benar-benar melaluinya. Di titik kulminasi "mbuh" dengan rutinitas selama ini, ritual "melarikan diri" dan butuh "hilang", seperti tidak lagi sukses menjawab kekosongan saya. Dan lalu, awal tahun ini, sudah haqqul yakin ingin mencicipi rutinitas yang berbeda. Gayung tersambut, saya mengkhatamkan semua step hingga akhirnya agustus kemarin tugas belajar pun sudah dikantong. Bagaimana rasanya? Sekian tahun meninggalkan bangku sekolah dan sekarang kembali, membuat saya sangat bersemangat. Kalau di kantor biasanya bertutur praksis, perlahan-lahan mulai membiasakan diri dengan bahasa ilmiah yang masif menginvasi telinga. Ada senang dan perasaan lucu hadir bersamaan. Saya menikmatinya.


Sebulan dengan rutinitas ini, ada kelegaan yang luar biasa, tidur pun terasa lebih nikmat. Saya baru menyadari, memegang amanah membuat saya seringkali mengkhawatirkan hal-hal dalam keseharian. Apa prosedurnya sudah terpenuhi? Apa kebijakannya sudah tepat? Apa sudah adil? Banyak. Bukan karena tidak mampu, tapi untuk seorang (a little bit) perfectionist, itu beban. And well, i'm in. Hahahah. Saya percaya selalu ada pertama kali dalam hidup, selalu ada fase belajar. Selama ada niat, semua hal bisa dipelajari.

Dari semua,  perubahan terbesarnya adalah saya mulai mencicipi tidur siang, sesuatu yang dulunya sangat mahal. Untuk pertama kalinya saya tidur siang tanpa merasa kepepet balik kantor. Terdengar sedikit berlebihan, tetapi untuk seseorang yang alarm biologisnya hanya memberi jatah tidur 5 jam sehari, itu luar biasa. Alhamdulillah.

Bertemu orang-orang baru memang menyenangkan, tapi pergi dari orang-orang yang sudah biasa membersamai juga bukan kenyamanan. Saya merindukannya. Sekalipun hanya bisa mengucap maaf bila terselip khilaf dan terima kasih yang luar biasa untuk kesempatan belajar dari sesiapa yang pernah mampir ataupun melintas. Saya belajar banyak dari interaksi, dalam tutur kata dan perbuatan para sahabat. Semoga setiap keputusan atas pilihan - pilihan yang ada senantiasa memberikan pembelajaran yang positif.


NB:
Well, berganti rutinitas itu melegakan tapi sekarang saya bingung. Jadwal kuliah MPD hanya di hari jumat dan sabtu. Terus, Minggu sampe kamis, "pengangguran yang ini" harus ngapain yah? Hahahah.
#masihbingungcarireferensi

Ada ide? 


14 komentar:

  1. oh mai, semoga secepatnya saya juga bisa "sementara" berganti rutinitas. Mo juga kek begini kakak, walau sudah gagal pada percobaan tahun ini mugi mugi tahun depan bisa goal :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin buk, taon depan goal.

      Saya 4 taunan coba ini, ada2 sjaa halangannya. Alhamdulillah taon ini done yah. Bahagiaaa.. Heheh

      Delete
  2. Congratulation! Semoga lancar kuliahnya.

    Memang tidur siang itu berharga banget buat orang yang biasa ngantor dari pagi sampai sore.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiin tingkyu mbasizt.

      Di hari2 biasanya sy masih bisa tidur siang minimal 15 menit sih. Paling banyak setengh jam. Alhamdulillah sekg bisa sejam-an. Hahahha #pentinggaksih. Hihi

      Delete
  3. Semoga selalu menikmati indahnya hidup di setiap hembusan nafas hehe
    Tidur siang, nyatanya ku nggak bisa karena terbiasa kerja �� alhasil ngoprek2.. menikmati hal2 yg kamu sukai aja hihii... Yg nggak merugikan org lain.^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sound like robo sapiens juga keknya nih. Heheh.

      Tidur siang pilihan sih. Perkara terbiasa apa nda juga, jga tergantung pilihan sih.

      Delete
  4. Wah keren memang Mbak Aci ini, bisa sekolah lagi, hehehe..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kaburji ini kak. Cari suasana baru, sebelum kepala meledak bosan. Hehee

      Delete
  5. Sehari tidur 4 atau 5 jam itu yang paling pas buat kesehatan, hehe... sebab bila dulu ada yang bilang tidur baiknya 8 jam, itu kalo menurut saya kebanyakan :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haseeek.. 1 mahzab keknya ini. Hahahha

      Delete
  6. Replies
    1. Eh ada manten baru. Barakallah ya diks.

      Duh, guweh kapan nyusul? #hahahah

      Delete
  7. saya saranin minggu sampai kamis baca buku sambil aktif nulis buat web bloof baru :D gimana deal?

    ReplyDelete
    Replies
    1. ulalaaa.
      nda berani ngejanji saia. :)
      even sebenarnya rindu beud pengen ngereview buku lagi. sekalipun versi abal-abal. hahahhah

      Delete

Kawan, silahkan tinggalkan jejak,,,

 

Friend List

Flickr Images

Blogger Perempuan