Robert Harris, Imperium

Imperium by Robert Harris
Judul : Imperium
Penulis : Robert Harris
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 416
(Cetakan kedua Juli 2008)


"Adalah Marcus Tullus Cicero, seorang senator biasa yang berambisi meraih jabatan tertinggi di Republik Romawi. Dengan kecerdasan dan bakat diplomasinya berjuang penuh demi mewujudkan impiannya."

Ini adalah buku ketiga yang saya akrabi di awal tahun ini dan menjadi buku pertama yang sukses dikhatamkan tidak lebih dari seminggu sejak menyibak halaman pertamanya. Sangat berbeda dengan dua buku lainnya, "Perfect Match" nya Jody Picoult dan "24 Wajah Billy" karya Daniel Keyes. Yang pertama khatam setelah sekian bulan, sedang yang kedua bahkan kembali terhenti tepat di tengahnya. Terlalu membosankan, sama sekali tidak menjawab ekspektasi saya pada buku-buku yang mengangkat tema psikologi yang biasanya selalu menarik.

Well, kembali ke Imperium. Ini kali pertama melahap buku Robert Harris dan yah, ada sedikit perasaan menyesal kenapa saya begitu tega membiarkan buku ini perawan di rak selama hampir setahun. Oh, my... Pertama, settingnya romawi, salah satu dari sekian tempat yang selalu mengambil alih ketertarikan saya, seperti yunani, jepang dan korea selatan. Yah begitulah, saya mencintai budaya mereka, termasuk seni dan apapun tentang tempat-tempat tersebut. Sedikit keterlaluan memang. :))) Kedua, bisa dibilang ini novel politik. Yang entah kenapa di kepala saya juga terpetakan sebagai sesuatu yang menarik. Intrik-intrik yang menjalin koherensi cerita, sederet ironi, sejumlah skandal, kawan dan lawan yang terus berubah, manuver-manuver yang tiba-tiba, tidak tertebak. Aisshh, itu menarik. Ini mengaktifkan tombol penasaran dan keingintahuan di kepala saya tanpa bisa mengendalikannya. Jadi wajar saja kalau jaman kuliah dulu, saya selalu semangat dengan mata kuliah studi kasus politik pemerintahan. :D

Robert Harris menawarkan kisah Marcus Tullius Cicero dalam 416 halaman yang sangat bersemangat. Sangat menarik bahwa perjalanan hidup, sepak terjang Cicero diceritakan dalam sudut pandang seorang Tiro, sekretaris pribadi Cicero. Seorang budak yang bagi Cicero adalah kawan baik yang selalu bisa diandalkan, seorang penemu sistem steno yang benar-benar ringkas.

Apa bagusnya buku ini?

Seperti tulisan saya di paragraph sebelumnya bahwa yang menarik dari novel politik adalah intrik-intrik dalam dunia politik itu sendiri. Dan "Imperium" adalah salah satu yang mewakili hal itu. Bab demi babnya padu, sangat mudah dicerna, seolah-olah kau menyaksikan dengan baik peristiwa-peristiwa itu dengan mata kepalamu sendiri. Komposisi narasi deskriptifnya pas, sama sekali tidak berlebihan. Sangat mudah dipahami. Sepertinya saya sangat kompromi dengan terjemahan mbak "Femmy", takarannya pas. Sederhana tanpa kesan biasa. Menarik. Tetiba saya ingat terjemahan Perfect Match nya Jody Picoult, sangat tidak nyaman di saya.

Belum lagi kisah yang dituturkan. Kalau kamu tertarik dengan politik dan berniat bermain di dalamnya, mungkin kamu harus menyempatkan diri membaca buku ini. Mengapa? Sebab sekalipun buku ini hanya memuat tindak tanduk Cicero, tetapi setidaknya kepandaiannya, retorika, semangatnya bisa menjadi masukan bahkan bahan pertimbangan. Tindak tanduknya semacam rangkuman tips and trik politik yang mumpuni. Sangat mengesankan bahwa Cicero memiliki kebiasaan dan meyakini bahwa terkadang seseorang harus memulai pertempuran untuk mengetahui cara memenangkannya. Pikirannya menjadi jauh lebih cemerlang saat ia mengalami sendiri hal-hal yang belum diketahuinya. Ia mencari tahu dengan menjalani. Semacam perjudian.

Sedikit yang mungkin mengganggu>> sederet nama tokoh dan klan yang tidak biasa mungkin akan mengacaukan ingatan. Oh, iya. Namanya juga novel politik, ada sekian banyak istilah politik yang khas romawi, everything about senat. Di awal-awal saya bertanya, harusnya buku ini punya foot note, biar lebih memudahkan. Dan baru saja saya memikirkan itu, di halaman berikutnya sudah terpampang dengan rapi. Sayangnya tidak kontinu, dan ada beberapa istilah yang dipakai tanpa ada penjelasan pasti. Padahal dikatakan bahwa buku ini disusun melalui riset yang teliti. Sepertinya "hole"nya disini. Kurang lengkap perihal istilah.

Well, ada beberapa quote yang menarik menurut saya. Check this out:
  • Kekuasaan memberikan banyak kemewahan bagi manusia tetapi dua tangan yang bersih jarang termasuk di dalamnya. (Hal. 14)
  • Ketekunanlah dan bukan kejeniusan yang mengantatkan manusia ke puncak. (Hal. 96)
  • Saraf harus setegang tali busur jika ingin panah melesat. (Hal. 300)
  • Seni kehidupan adalah mengatasi masalah ketika ia muncul, bukannya menghancurkan semangat dengat mencemaskan hal-hal yang terlalu jauh di depan. (Hal. 412)
Tentang trik-trik politik dan manuver-manuver khas romawi yang kalau dipikir-pikir masih relevan dengan saat ini, sepertinya harus kau temukan sendiri. Tak akan rugi kawan. Kau bahkan bisa menemukan sederet fakta tentang masa muda salah seorang yang saat ini diingat dunia sebagai pembesar Romawi, Gaius Jullius Caesar. 

Em.., dan sepertinya membaca Imperium atau novel politik di waktu-waktu dekat Pemilu Legislatif seperti ini benar-benar menyenangkan. Saya tidak bisa mengontrol imajinasi di kepala ini tentang bagaimana sibuk bin repotnya para caleg menggalang suara demi memenangkan kursi di dewan. Kalau mau menang berguru pada Cicero sepertinya tepat. :))

Well, 9 April besok, hari pencoblosan. Pastikan suara anda untuk mereka, wakil yang tepat dan pantas mewakili rakyat. Say no to GOLPUT, yah. :))))





Robert Harris, Imperium Read More

(Bukan) Keleidoskop

Haloo, fellas!! How are you?
Right now, right here, saya sedang bergerilya melawan kantuk. Sejak awal tahun ini, Pemda di tempat saya memberlakukan peraturan baru, 5 hari kerja dan ternyata itu benar-benar... sesuatu.. Oh, tidur siaaang.. Ini kali pertama, saya benar-benar di kantor sampai jam 4 sore. 
"Jadi selama ini empunya blog bolos kerja?", tanyamu. 
Ya dan tidak! 
Maksudnya?

Iya, karena saya memang cepat pulang kantor, dan tidak karena saya lembur di rumah, berminggu-minggu. Kelelahan, seratonin = 0. Berencana build it up by sleep, but nope. Terlanjur lupa namanya nyenyak. #skip.

Well, ini 2014. Then, 2013 is a past. Mungkin terlalu terlambat menuliskan post ini, tapi biarlah. Sebut saja semacam prolog mengawali 2014. Emm, sebaiknya tinggalkan saja halaman ini, saya berencana menuliskan pikiran random di kepala ini. :) This is my to do list.

Eh, kurang 1 >> practice more. Even englishnya berantakan. Perihal resolusi 1435 H, thats my own business!

2013 -dibanding tahun-tahun sebelumnya, sepertinya menjadi year of so many lesson. Saya melihat lebih banyak manusia-manusia dengan topeng santun yang ternyata tidak pernah peduli dengan sekitar. Terlihat sangat peduli pada orang lain, tapi ternyata untuk keluarga sendiri mereka nihil. Beberapa di antaranya adalah yang kepala saya sebut sebagai akrab. Dan itu menyakitkan. Okeh, saya ENTJ, full of judging. Orang-orang selalu berkata, 1-2 kali berbuat kesalahan, sama dengan khilaf. Lalu 3.., tapi 4-5 kali itu namanya keterlaluan.

Saya bagian dari orang-orang yang berkata demikian. Kepala saya menterjemahkannya sebagai keterlaluan. Artinya dia memang tidak peduli perasaan orang lain. Dibanding mereka yang efisien, saya lebih suka mereka yang emphatic. Apa salahnya berbicara jujur. Saya menghargai mereka yang berterus terang, even itu menyakitkan. Bukankah, tindakan bodoh bila seorang yang seharusnya terlibat, menjadi bagian yang paling terakhir mengetahui kebenaran? Artinya kau sedang sengaja menggali lubang, mencipta jarak, semacam mengusir orang-orang terdekat dengan bahasa anonim.

Keluarga bagi setiap orang adalah kekuatan. Tapi kita kadang lupa bahwa menjadi yang sumber kekuatan terbaikmu adalah juga sumber kelemahan terbesar. Iyah, seperti itu. Akan lebih mudah memaafkan kesalahan orang lain saat abai, dibanding memaafkan kesalahan seseorang yang bagi dirimu adalah bagian yang sangat akrab. Di posisi yang menjadi diabaikan, tetiba saya menyadari satu hal. Kadang seseorang berhenti peduli, bukan karena ia sudah tidak peduli tapi karena ia sadar kepeduliannya tidak dihargai. Kau tahu, apa setelahnya? Menjadi tidak peduli adalah benih todak suka yang akan menumbuhkan benci.

Saya tidak suka november, seperti membenci september 2013. Sepertinya fase terjatuh saya ada disana. Seumur hidup, itu kali pertama saya merasa menjadi orang paling bodoh. Tapi beruntung, ada begitu banyak kawan yang bersedia membagi kesedihan saya. Eh, bukan, tapi menyentil saya, lebih tepatnya. Orang-orang ini meninggalkan nasehat singkat tanpa menjadi superior pada saya. Thankful, God. Di tumblr, saya menulis seperti ini:
Beberapa orang mungkin selalu punya formula "penyembuh" untuk setiap "sakitnya". Tapi jangan terlalu yakin bahwa "makanan bergizi" selalu bisa kau temukan sendiri. Kau akan selalu butuh orang lain untuk berbagi. Zoon politicon, sudah kodratnya. 

Yapz, setiap orang butuh orang lain. Apapun bentuknya, its make me strong enough. 2013 lewat. :) Em, yang gagal total itu.. resolusi 11 teng dan 53 kg. Insomnia masih cinta mati sama saya, berat badan malah menakutkan, turun drastis ke 45. Untuk resolusi bebas celana jeans, setidaknya sedikit menggembirakan. Di 5 kali penggunaan, dia berdamai dengan baju panjang. #eh #skip.

2013.
I fall, I rise, I make a mistake, I learn, I've been hurt, but i'm alive.
I'm human and i'm not perfect. I learn to Thankful.

Then, 2014.
Things change, friends leave, and life doesn't stop for anybody.
I wonder, 2014 is a year of achieving. So, I'll stay focus on my own goals.
For 2013, for everything, thanks God.
Wish my whole day filled by love and cheers, bring a wonderful here.

Untuk para adik atau kakak di luar sana, kalau kau merasa akrab dengan saudaramu, dan ada sesuatu yang yang berkaitan dengannya, jujurlah. Sebelum itu menyakitkan. Sebab ketika seseorang tersakiti, bisa jadi seseorang menjadi mati rasa padamu. Its mean, kau tidak lagi berbeda dengan orang asing, baginya.

For sure, I'll write a good one for my 352 page books left. 
Happy 2014. Wishing everyone be happy!
(Bukan) Keleidoskop Read More

Sepotong kisah yang entah, pagi tadi..

Sore hari di beranda, dengan segelas kopi dan sedikit cemilan. Damai. Tetapi hanya untuk sejenak. Tetiba mengingat kejadian tadi pagi di kantor. 

Sepasang suami istri datang menghadap pak lurah. Beberapa waktu lalu sang suami pernah ke kantor, meminta dibuatkan surat pengantar nikah, saya sempat mengecek status di kartu keluarga, cerai mati. Tidak langsung di acc, gelagatnya rada aneh, feeling saya ada yang tidak beres. Dan benar saja, setelah bertanya-tanya kepada beberapa tokoh masyarakat di lingkungannya, saya baru tahu kalau ternyata si suami ini sudah pernah menikah lagi tapi secara siri dengan seorang wanita, sebut saja si A. Istri yang datang bersamanya hari ini. Ternyata keperluannya mengurus pengantar beberapa waktu lalu adalah untuk menikah lagi dengan seorang wanita sebut saja si B. 

Hari ini keduanya datang untuk mengkonfirmasi hubungan keduanya. Sedikit berpanjang lebar, akhirnya sang istri sepakat membuat surat pernyataan bahwa ia bersedia merelakan suami menikah lagi dengan B. Sang suami tersenyum, sang istri mengejap-ngejapkan matanya yang mulai memerah. Saya rasa tabungan pelumas matanya akan tumpah. Ini bagian yang tidak saya suka, saya tidak tahan, lalu bergegas ke ruang sebelah melakukan entah apa. 

Tidak lama sang istri menyambangi saya di ruangan sebelah, minta tolong dibuatkan surat pernyataan yang dimaksud. Apesnya, dia curhat, dengan sesegukan. God, bagian ini lebih tidak enak lagi, saya berusaha menanggapi sehalus mungkin, dan tidak terbawa suasana sebisanya. Saya paling tidak tahan mendengar seseorang menangis. Beruntung konsep surat yang dimintanya cepat selesai. 

Obrolan mereka dengan pak lurah masih berlanjut, dan tahulah sekarang ternyata sang suami itu berniat menikah lagi dengan si B tanpa menceraikan istrinya, si A. Kalau itu terjadi, artinya si A tetap berstatus sebagai istri tapi dengan status tidak sah di depan hukum. Sedang si B akan memiliki status resmi sebagai istri sah. Saya mendengar pak lurah terdiam. Lama. Lalu sejurus kemudian beliau memanggil saya, sekedar minta pendapat. Saya hanya bisa mengatakan, mungkin harus konfirmasi dulu dengan pihak si B, apa dia dan keluarganya sudah tahu kalau si suami akan menikahinya tanpa menceraikan si A. Pak lurah mahfum dan meminta berbicara dengan keluarga si B via telpon. Setelah dikonfirmasi kenyataannya, mereka belum tahu. 

Telpon ditutup dan pembicaraan berlanjut, dengan saya disana. Masih. Pak lurah hanya bertanya singkat, jadi bagaimana pak? Lalu dengan enteng si suami berkata, kalau begitu ceraikan saja istri saya ini. Sumpah, dia mengatakannya seolah-olah itu bukan hal yang luar biasa. Si istri hanya menunduk, memainkan kunci motor sembari lagi-lagi mengejap-ngejapkan matanya. Tuhaaaaan.., hati saya yang menyaksikannya bergemuruh tidak karuan, bisa-bisanya semudah itu. Pak lurah? Sama, ia berkali-kali mengejap-ngejapkan matanya seolah mempertahankan tatanan otot wajahnya tetap pada posisinya. 

Saya ke ruang sebelah lagi. Dan sang istri mengekor di belakang saya. Ikut duduk di sebelah saya, curhat lagi pada saya. Tuhan, kuatkan telinga saya. Saya tahu diri belum punya pengalaman sebagai pasangan, dan sadar betul, di depan saya ini seorang ibu yang sudah familiar dengan asam garam berumahtangga, bukan bagian saya untuk sok tahu. Saya hanya bisa berucap, yang kuat bu. Semoga menepuk pundaknya bisa membuat bebannya sedikit ringan. 

Finally, surat pernyataan tadi diganti dengan pernyataan bahwa keduanya benar-benar sudah berpisah sejak november 2013, lengkap dengan materai, saksi dan kolom diketahui pak lurah. Keduanya pun pergi. Lama saya terdiam di depan komputer. Pak lurah yang kebetulan lewat berceloteh, "Ternyata kejadian seperti pagi ini benar-benar ada. Lelaki yang tidak berperasaan itu memang ada. Hati-hati mencari pasangan bu". 

Tidak beberapa lama, ibu-ibu di kantor mulai heboh perihal tadi. Semuanya sama tidak percayanya dengan ekpresi tidak berdosa sang suami tadi. Salah seorang staf di kantor bahkan berkata, kalau sebenarnya si istrilah yang jadi tulang punggung keluarga selama ini.

Lalu...
kalau seperti ini, baiknya bagaimana yah bu? Ah, pertanyaan itu menyelamatkan saya dari sejumlah pertanyaan random yang mulai membentuk peta sendiri di kepala saya. 

Dear my self..
Yah, beberapa orang dikaruniai kisah hidup yang berbeda-beda. Jadi belajarlah untuk menghargai hidupmu. Berhenti merasa engkau sudah melakukan yang lebih baik dari orang lain. Stay strong, evenwhen it feels like everything is falling apart. You never know how strong you are, until being strong is the only choise you have.

Saya hanya berharap satu hal, semoga pasangan hidup saya kelak adalah seorang kawan berbagi yang baik. Amin... 

Sepotong kisah yang entah, pagi tadi.. Read More

Buku dan Kebohongan- kebohongan di dalamnya.

Anda termasuk pecinta buku? 
Akrab dengan buku? 
Ah, pertanyaan-pertanyaan ini sebenarnya tidak penting. 
Tapi pernah tidak, terlintas di pikiran anda bahwa sebenarnya buku-buku hanyalah kobohongan belaka? Penulis di setiap belahan dunia bercokol dengan ide-idenya demi merekonstruksi cerita yang lucunya sangat ditunggu-tunggu oleh pembacanya. 

Saya memikirkan hal absurd ini ketika membaca buku "Murjangkung : Cinta yang dungu dan hantu-hantu". Kumpulan cerpen A.S Laksana, seorang sastrawan, pengarang, kritikus sastra juga wartawan Indonesia yang aktif menulis di berbagai media cetak Indonesia. 

Murjangkung : cinta yang dungu dan hantu-hantu
Minggu kemarin saya tidak punya sedikitpun plan to do. Jadilah memilih buku sebagai obat membunuh waktu. Sebelum saya mati bosan. 

Rupanya Murjangkung ini kumpulan cerpen, dikisahkan dalam 20 cerita berbeda. Ini kali pertama saya membaca buku om A.S Laksana, sebelum-sebelumnya saya hanya akrab dengan tweet-tweet beliau. Dan yah, tentu saja, tweet sangat berbeda dengan cerpen. Bab 1 terkesan sangat lamban. Aroma dongengnya sangat kental. Bagi saya yang untuk beberapa waktu tidak mengakrab-i cerpen, tetiba memaksa diri kembali menikmatinya, ini semacam cultur shock. Terlebih beberapa waktu belakangan saya jarang membaca. 

Lalu bab 2, ini alasan yang membuat saya bertahan membacanya. Tastenya sangat berbeda dengan yang pertama, lebih cepat, ide-idenya lebih briliant dan yah, saya bertahan membacanya. Lalu biasa-biasa lagi dan terakhir di sepertiga - mungkin seperempat dari buku sebelum tamat, untuk beberapa bab itu, saya sangat menikmatinya. Seolah-olah digiring dalam cerita absurd tanpa mengesampingkan logika, sebut saja komedi satirnya berhasil menghipnotis saya, plus cara bertuturnya yang khas. Untuk penilaian saya, 2 bintang dari 5 untuk buku ini. Bukan karena kurang bagus, bintang itu ukuran kesukaan saya pada genre bacaan. #eh.

Membaca dongeng, mau tidak mau menggiring saya pada pandangan semacam itu. Bahwa buku sebenarnya adalah berlembar-lembar kebohongan yang ditunggu-tunggu pembacanya. Lucu, bahwa kita tahu ini hanya karangan tapi masih saja menunggu dengan harap-harap cemas saat tahu penulis andalan kita akan segera meluncurkan buku barunya lagi, lalu dengan sabar kita mengantri di toko-toko buku bila ternyata banyak yang menunggu hal yang sama, atau mungkin, mengunjungi perpustakaan dengan beratus - ratus rak yang bertingkat-tingkat entah berapa banyak demi mencari buku idaman.

Ah, ya. Saya baru ingat, sepertinya pikiran semacam ini pernah saya baca di salah satu buku bertahun-tahun lalu. Kalau ingatan saya benar, itu bukunya Jostein Gaarder, "Perpustakaan Bibbi Bokken". Buku dengan tokoh sentral anak-anak yang berpetualang untuk memecahkan misteri wanita misterius, si Bibbi Bokken. Saya lupa bagaimana pastinya pendapat dalam buku itu, ingatan random saya hanya mengatakan sepertinya ada. #Abaikan.

Bayangkan, jika buku benar hanyalah kumpulan kebohongan-kebohongan yang cintai pembacanya. Kebohongan yang ditahu dengan pasti, tapi masih dicari. Coba hitung : Berapa banyak kebohongan yang telah dibaca setiap hari, berapa banyak yang diterbitkan setiap hari, berapa banyak duit yang dibuang demi membeli kebohongan-kebohongan, lalu berapa banyak kebohongan yang disimpan dan dimuseumkan dengan sangat baik oleh para kolektor buku, perpustakawan, atau mungkin kamu. Saya sendiri punya satu lemari besar untuk menampung kebohongan-kebohongan itu, yang semakin hari semakin sesak. Setiap kali ke toko buku, selalu pulang dengan tentengan sejumlah buku-buku baru, lagi-lagi kebohongan yang menambah sesak lemari buku saya. Dengan sangat sadar saya membeli satu demi satu kebohongan dan menyimpannya, meminjamkannya dan makin banyaklah jumlah orang-orang yang ikut dibohongi di dunia ini. 

Seharusnya, kita mulai memperbaiki ucapan selamat datang di toko-toko buku dengan selamat membeli kebohongan dan perpustakaan dengan selamat datang di rumah kebohongan. Lalu ditambah dengan sejumlah narasi, kebohongan-kebohongan ini bisa membawa anda kemana saja, hati-hati, bisa jadi anda akan menjadi pembohong yang cerdas setelah membacanya.

Maafkan kekacauan pikiran saya. :)  Wajar saja, saya memerlukan blog sebagai rumah kedua. Ternyata bukan karena "hidup harus meninggalkan jejak" tapi demi menyelamatkan kewarasan saya.

Buku tetaplah buku. Tidak peduli setelah membacanya engkau menjadi lebih baik atau sebaliknya. Sudah jadi tugas masing-masing pribadi untuk membentengi dirinya sendiri. Bukan menyalahkan buku. Berhenti untuk terlalu percaya diri membaca setiap genre buku. Hati-hati ada beberapa yang sudah di desain mengubah pola pikir bahkan keyakinan anda. Be ware. Lah, jadi horror begini.

Random:
Hiatus itu.. sempurna membuat kewarasan hilang satu-satu. Menulis adalah kebutuhan rupanya.
Saya kembali. :)
Buku dan Kebohongan- kebohongan di dalamnya. Read More

Euforia BBM for Android

Sesi meracau.

Kemarin, sejak selepas magrib, saya sudah duduk manis depan laptop, merondai Play Store, demi menunggu app yang satu ini muncul. Yah, saya termasuk satu dari sekian banyak pengguna android yang juga penasaran dengan aplikasi ini. Alasannya? Mungkin karena saya memang tidak pernah menggunakan blackberry sebagai salah satu pilihan handset. Atau bisa jadi rasa penasaran saya "apa bagusnya BBM, sampai sampai konsumen terbesar ada di Indonesia?". No Offense.

Rasanya wajar berpikiran seperti itu, di luar sana, sudah rahasia umum, kalau Indonesia masuk dalam lima besar pengguna handset blackberry terbesar di dunia, layanan sosial media facebook juga, terbanyak ke empat setelah india. Kultur pergaulan/ interaksi sosial pada media online kita begitu unik bukan? 

Di awal peluncurannya, tak pelak blackberry memang menjadi primadona, dengan sangat meyakinkan mengukuhkan diri sebagai pengisi ruang kosong antara vendor nokia (handset sejuta umat) dengan vendor berkelas-apple. Bahkan setelah beberapa waktu, setelah kemunculan android, windows phone, aplikasi messanger lintas flatform (whatsapp, line, kakao talk, wechat), pesona blackberry masih saja kuat, hanya bergeser dalam skala kecil. 

Bisa jadi sederet pesona itu yang membuat saya sangat antusias dengan berita dilepasnya BBM ke flatform lain sejenis Android dan iOS. Beberapa teman bahkan bercerita kalau mereka bertaruh akan kehadiran aplikasi ini. Well, saking antusiasnya saya tidak bisa khusuk mengerjakan laporan demi aplikasi ini. Facebook, Twitter, Path, Whatsapp, Line dan semua akun yang memungkinkan, kompromi untuk ON bersamaan. First time happen in mine. Di twitter paling seru, jadi TTW sekian jam, banyak yang kasak -kusuk meributkan aplikasi yang benar. Dan memang benar, hingga tengah malam ada sekitar 15-an aplikasi fake yang beredar di PlayStore. Belum ada versi asli dari Blackberry Limited.

Makin penasaran, pertahanan jebol, saya pun tergoda menginstall file apk BBM dari kawan yang bocor dari web bbm.com sehari sebelumnya. Dan.. Tattadaaa.. 



Well done. Dicoba dengan beberapa kawan, sukses. Asli, sumringah. Di whatsapp, instagram, path, facebook, semua heboh pamer pin, tukaran pin ke sesama pengguna handset andro, iOS, dan BB, termasuk saya. LOL.   Terjawab sudah ternyata invitenya persis BBM di bb, pake PIN bukan username atau sekedar email. Berita buruknya, agak siangan saat coba-coba invite kawan-kawan yang sudah inbox pin, semuanya pending. Sedikit curiga, saya bergegas cari inpoh di mbah google dan yah... its unactive anymore. Ternyata animo pengguna android sangat luar biasa (gretongan gitu, pasti laris manis. :) ) 1,1 juta pengunduh dalam 8 jam sejak server dibuka. Mengejutkan bagi Blackberry karena secara resmi memang belum dirilis di Play Store. Di App Store sendiri, untuk beberapa jam, sempat muncul sebelum kemudian ditarik kembali. Rupanya serbuan user baru yang mengunduh file apk tidak resmi ini sukses menyebabkan masalah teknis pada sistem blackberry. Solusinya, aplikasi ini ditarik, dan dinyatakan non aktif.

Sedikit dzu'udzon. >:)Bisa saja blackberry sengaja membocorkan apk untuk robot ijo sehari sebelumnya. Bisa saja alasannya untuk mempelajari pasar. Dan ternyata, animo besar yang diharapkan benar-benar terjadi. Bisa - bisa ketika BBM for Android yang resmi rilis, tidak lagi gratis tapi berbayar (bisa jadi, bisa jadiiii..., iya kann..). Tapi pastinya animo masyarakat juga akan berubah. Masyarakat mana sih yang matanya tidak ijo-ijo liat gretongan. Hahahhah. Eh, tapi. Dibanding BBM, saya lebih nyaman di whatsapp, sekalipun dengan kemungkinan, no hp kita makin banyak yang tahu. Whatsapp lancar jaya, BBM masih rajin pending. Lagi -lagi NO OFFENSE. :)

Well, satu penasaran saya sudah terjawab, sudah tau tampilan BBM di android. Yang belum adalah, sejak BBM jadi anak perusahan sendiri, apa tujuan sebenarnya Blackberry melepas BBM ke Android dan iOS? Menantang (keberadaan whatsapp, line dkk), bertaruh apa bunuh diri (di kancah per-handset-an) dengan vendor-vendor lain? Just.... Let wait and see.. :)

Euforia BBM for Android Read More