13 Mar 2015

Will spring come back here?

Assalamu alaikum.. 2015
Berasa lama beud saya hiatus. Apa kabar kepala? Jangan tanya, >> Full, of course. Sekian banyak pencapaian, tantangan, sedih, bahagia, kecewa, bertumpuk dengan baik. Kepala bak tong sampah yang terus menerus dijejali sampah rasa. Semakin sesak tanpa dibuang. Beberapa terjatuh dan mengenang di sekitar. Siapa nyana ini bisa mengaburkan pikiran positif yang biasanya menunggu dengan baik di "rumah". #Disitu kadang saya merasa kepala tidak benar-benar baik-baik saja. :))


Will spring come back, here..??
I guess, it will. Kepala ini selalu butuh rumah untuk kembali, merindukan monolog dalam episode tak terhingga, zona nyaman merekap nyinyir yang tak kunjung almarhum. Bisa jadi besok lusa kepala ini akan setuju curhat colongan disini demi menyelamatkan kewarasan. Who knows.. ^^

Saya bertanya-tanya masih adakah kawan yang ingat blog ini? Masih adakah yang ingin tahu isi kepala saya? Masih adakah yang ingin bertukar pendapat dan membanjiri postingan dengan komentar-komentar, seperti tahun-tahun yang telah lalu? Tapi saya lalu tersadar, itu bukan hal yang penting, saya menulis blog ini bukan untuk orang lain, ini untuk saya, demi kepala saya. Thats the point. Alasan yang sama kenapa saya memulai menulis buku harian lagi :))

Arrgggghhh.. saya benar-benar rindu menyapa maya yang ini. Wish me find a way home. #Halaaah.





7 May 2014

Tentang diam yang berkata-kata

Diam bisa saja bercerita..
bahwa kematian selalu tentang perkara pergi
diam bisa saja bersuara
serupa rapal se-sajak perpisahan
tentang kamboja dan batu nisan

fasih..

Ia pergi,
dalam diam yang berkata-kata…
“aku tidak lagi disini"

4 May 2014

Paulo Coelho, The Pilgrimage

Judul : Ziarah "The Pilgrimage"
Penulis : Paulo Coelho
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal : 264 halaman
(Cetakan kedua : November 2013)

Adalah seorang Paulo yang tiba-tiba gagal, tepat sedetik dari ujung ritual tradisi RAM untuk menjadi seorang Magi (tingkatan tertinggi dalam ordo RAM). Dan oleh sang Guru diharuskan menempuh perjalanan suci sejauh 700 km dari Saint-Jean-Pied-de-Port di Prancis menuju ke Santiago de Compostela di Spanyol untuk menemukan pedangnya kembali. Dipandu oleh seorang kawan seperjalanan yang misterius bernama Petrus, mengharuskan Paulo belajar banyak dan mengatasi masalahnya sendiri.

Terkesan misterius yah? Pertama kali membaca bagian prolog saya juga demikian dan langsung menganggap ini fiksi. Tapi sedetik kemudian saya dibuat bingung, apa benar ini murni fiksi atau memoar Paulo seperti bukunya yang paling fenomenal "The Alchemist". Bagaimana tidak, bila ini fiksi maka ia adalah kisah yang luar biasa, lengkap dengan fakta historisnya. Lalu kalau ini catatan perjalanan seorang Paulo, maka ia sempurna membuat pembaca speechless. 

Segera setelah kebingungan itu, di bab awal saya mulai menganggap ini novel religius. Saya baru tahu kalau seperti halnya umat Islam yang memiliki perjalanan suci yang disebut Haji, rupanya umat Kristiani juga memiliki hal yang demikian. Mereka menyebutnya ziarah dengan 3 rute berbeda. Jalur pertama menuju pusara Santo Petrus di Roma dengan salib sebagai simbol. Jalur kedua, ke Makam suci Kristus di Yerusalem dengan daun palem sebagai simbol. Dan jalur ketiga menuju tempat San Tiago disemayamkan, dikenal sebagai Compostela, dengan simbol kulit kerang. Paulo mengambil jalur ini. 

Sekalipun terkesan seperti novel religius, The Pilgrimage sebenarnya lebih menekankan pada "perjalanan". Bukan melulu dalam artian religius, tapi lebih cenderung tentang perjalanan mencapai pengetahuan diri, kebijaksanaan. Tepat seperti topik yang diangkat Paulo dalam bukunya The Alchemist. Buku ini sendiri terbit lebih dahulu dari Alchemist. Saya jadi berpendapat, sepertinya ide perjalanan di Alchemist, lahir dari buku ini. Di beberapa bagian mungkin ada beberapa nukilan ayat dari Alkitab yang digunakan Petrus untuk mengingatkan Paulo tapi Tidak seberapa. Saya pribadi seorang muslim dan menganggap buku ini lebih sebagai bentuk pengembangan diri, memperkaya pengetahuan. Buku ini juga mengenalkan beberapa latihan RAM, R untuk rigor (ketetapan), A untuk adoration (penyembahan) dan M untuk Mercy (welas asih). Bagian yang ini saya tidak terlalu banyak tahu. 

Sentral topik lainnya dari buku ini sepertinya berkisar pada tingkatan "cinta", Petrus menyebutnya ada 3 tingkatan, eros, philo dan agape. Eros sebagai manifestasi cinta kasih pada pasangan, lalu philo kepada sahabat dan tingkatan tertinggi adalah agape. Terkesan berat? Sama sekali tidak. Paulo meramunya dalam bahasa yang sangat sederhana. Untuk bagian ini sepertinya pembaca mesti berterima kasih pada alih bahasa dan editornya, Eko Indriantanto dan Tanti Lesmana. Saking sederhananya saya bahkan selalu melewatkan tanda (*) yang menjadi bahan yang akan dibahas dalam footnote. Sampai di footnote baru nyadar "eh, yang mana tadi?" Hehhehe.. skip. 

Saya menikmati momen setiap kali membaca buku -buku Paulo Coelho, melahap narasi demi narasi, seolah-olah saya menjadi objek yang dikuliahi dengan sejumlah pelajaran /moral dari sebuah perjalanan pencerahan. Menyenangkan sebab ia kaya hikmah tapi jauh dari kesan menggurui. Seolah-olah pembaca adalah penonton yang disuguhi scene-scene bijaksana yang morphinis. Toh, bagian paling nyaman dari membaca adalah menemukan hikmah dari sebuah kisah, intinya memperkaya pengetahuan diri. Beruntung sekali kalau kita bisa menjadi sedikit bijaksana setelahnya. :)

Ada banyak bagian menarik dalam buku ini. Saya pribadi sangat tertarik dengan paradoks dalam doa Petrus pada bab "Watak Jahat", halaman 150-154. Kira-kira seperti ini :
Kasihanilah mereka yang karena x maka y, tapi lebih kasihanilah mereka yang tahu tentang x tetapi tidak bisa menghindari y.

Simpel memang tapi sedikit "nyelekit", baca sendiri baru percaya. :)) Then, quote menarik lainnya seperti ini :
  • Kau tak perlu mendaki gunung untuk tahu tingginya (hal 31)
  • Tempat teraman untuk kapal adalah dermaga, tapi bukan itu alasan kapal dibuat (hal 31)
  • Saat kau menempuh perjalanan untuk mencapai sesuatu, kau harus senantiasa memperhatikan jalanmu. Jalanmulah yang akan menjadi petunjuk terbaik dan memperkayamu saat kau menempuhnya (hal 47)
  • ...... karena waktu bukanlah sesuatu yang selalu bergerak dalam kecepatan yang sama. Kitalah yang menentukan seberapa cepat waktu kita berjalan (hal 49)
  • Gejala awal kita berada dalam proses membunuh mimpi adalah keterbatasan waktu. Gejala kedua impian kita mulai mati terletak dala  keyakinan kita. Gejala ketiga, kita melepaskan impian adalah kedamaian (hal 63-65)
  • Palu akan sia-sia tanpa paku untuk dipaku (hal 162)
  • Mengajar berarti mendemonstrasikan Bahwa itu semua mungkin. Mempelajari berarti membuat semua itu menjadi mungkin bagi dirimu (hal 163)
  • Orang yang tak tahu bagaimana caranya mendengarkan tak akan pernah mampu mendengar nasihat yang diberikan hidup kepada kita sepanjang waktu (hal 202)

Well, thats all. 4 bintang dari 5 buat buku ini. 

Sedikit random>> bumiaccilong sudah terlalu jarang disambangi, si empunya blog terlalu khusuk main di tumblr. Yang punya tumblr, jenguk saya dungz disini, mungkin bisa jadi kawan baru. #modusbeud hahahhaha. 
Have a nice day, fellas. :))

5 Apr 2014

Robert Harris, Imperium

Imperium by Robert Harris
Judul : Imperium
Penulis : Robert Harris
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 416
(Cetakan kedua Juli 2008)


"Adalah Marcus Tullus Cicero, seorang senator biasa yang berambisi meraih jabatan tertinggi di Republik Romawi. Dengan kecerdasan dan bakat diplomasinya berjuang penuh demi mewujudkan impiannya."

Ini adalah buku ketiga yang saya akrabi di awal tahun ini dan menjadi buku pertama yang sukses dikhatamkan tidak lebih dari seminggu sejak menyibak halaman pertamanya. Sangat berbeda dengan dua buku lainnya, "Perfect Match" nya Jody Picoult dan "24 Wajah Billy" karya Daniel Keyes. Yang pertama khatam setelah sekian bulan, sedang yang kedua bahkan kembali terhenti tepat di tengahnya. Terlalu membosankan, sama sekali tidak menjawab ekspektasi saya pada buku-buku yang mengangkat tema psikologi yang biasanya selalu menarik.

Well, kembali ke Imperium. Ini kali pertama melahap buku Robert Harris dan yah, ada sedikit perasaan menyesal kenapa saya begitu tega membiarkan buku ini perawan di rak selama hampir setahun. Oh, my... Pertama, settingnya romawi, salah satu dari sekian tempat yang selalu mengambil alih ketertarikan saya, seperti yunani, jepang dan korea selatan. Yah begitulah, saya mencintai budaya mereka, termasuk seni dan apapun tentang tempat-tempat tersebut. Sedikit keterlaluan memang. :))) Kedua, bisa dibilang ini novel politik. Yang entah kenapa di kepala saya juga terpetakan sebagai sesuatu yang menarik. Intrik-intrik yang menjalin koherensi cerita, sederet ironi, sejumlah skandal, kawan dan lawan yang terus berubah, manuver-manuver yang tiba-tiba, tidak tertebak. Aisshh, itu menarik. Ini mengaktifkan tombol penasaran dan keingintahuan di kepala saya tanpa bisa mengendalikannya. Jadi wajar saja kalau jaman kuliah dulu, saya selalu semangat dengan mata kuliah studi kasus politik pemerintahan. :D

Robert Harris menawarkan kisah Marcus Tullius Cicero dalam 416 halaman yang sangat bersemangat. Sangat menarik bahwa perjalanan hidup, sepak terjang Cicero diceritakan dalam sudut pandang seorang Tiro, sekretaris pribadi Cicero. Seorang budak yang bagi Cicero adalah kawan baik yang selalu bisa diandalkan, seorang penemu sistem steno yang benar-benar ringkas.

Apa bagusnya buku ini?

Seperti tulisan saya di paragraph sebelumnya bahwa yang menarik dari novel politik adalah intrik-intrik dalam dunia politik itu sendiri. Dan "Imperium" adalah salah satu yang mewakili hal itu. Bab demi babnya padu, sangat mudah dicerna, seolah-olah kau menyaksikan dengan baik peristiwa-peristiwa itu dengan mata kepalamu sendiri. Komposisi narasi deskriptifnya pas, sama sekali tidak berlebihan. Sangat mudah dipahami. Sepertinya saya sangat kompromi dengan terjemahan mbak "Femmy", takarannya pas. Sederhana tanpa kesan biasa. Menarik. Tetiba saya ingat terjemahan Perfect Match nya Jody Picoult, sangat tidak nyaman di saya.

Belum lagi kisah yang dituturkan. Kalau kamu tertarik dengan politik dan berniat bermain di dalamnya, mungkin kamu harus menyempatkan diri membaca buku ini. Mengapa? Sebab sekalipun buku ini hanya memuat tindak tanduk Cicero, tetapi setidaknya kepandaiannya, retorika, semangatnya bisa menjadi masukan bahkan bahan pertimbangan. Tindak tanduknya semacam rangkuman tips and trik politik yang mumpuni. Sangat mengesankan bahwa Cicero memiliki kebiasaan dan meyakini bahwa terkadang seseorang harus memulai pertempuran untuk mengetahui cara memenangkannya. Pikirannya menjadi jauh lebih cemerlang saat ia mengalami sendiri hal-hal yang belum diketahuinya. Ia mencari tahu dengan menjalani. Semacam perjudian.

Sedikit yang mungkin mengganggu>> sederet nama tokoh dan klan yang tidak biasa mungkin akan mengacaukan ingatan. Oh, iya. Namanya juga novel politik, ada sekian banyak istilah politik yang khas romawi, everything about senat. Di awal-awal saya bertanya, harusnya buku ini punya foot note, biar lebih memudahkan. Dan baru saja saya memikirkan itu, di halaman berikutnya sudah terpampang dengan rapi. Sayangnya tidak kontinu, dan ada beberapa istilah yang dipakai tanpa ada penjelasan pasti. Padahal dikatakan bahwa buku ini disusun melalui riset yang teliti. Sepertinya "hole"nya disini. Kurang lengkap perihal istilah.

Well, ada beberapa quote yang menarik menurut saya. Check this out:
  • Kekuasaan memberikan banyak kemewahan bagi manusia tetapi dua tangan yang bersih jarang termasuk di dalamnya. (Hal. 14)
  • Ketekunanlah dan bukan kejeniusan yang mengantatkan manusia ke puncak. (Hal. 96)
  • Saraf harus setegang tali busur jika ingin panah melesat. (Hal. 300)
  • Seni kehidupan adalah mengatasi masalah ketika ia muncul, bukannya menghancurkan semangat dengat mencemaskan hal-hal yang terlalu jauh di depan. (Hal. 412)
Tentang trik-trik politik dan manuver-manuver khas romawi yang kalau dipikir-pikir masih relevan dengan saat ini, sepertinya harus kau temukan sendiri. Tak akan rugi kawan. Kau bahkan bisa menemukan sederet fakta tentang masa muda salah seorang yang saat ini diingat dunia sebagai pembesar Romawi, Gaius Jullius Caesar. 

Em.., dan sepertinya membaca Imperium atau novel politik di waktu-waktu dekat Pemilu Legislatif seperti ini benar-benar menyenangkan. Saya tidak bisa mengontrol imajinasi di kepala ini tentang bagaimana sibuk bin repotnya para caleg menggalang suara demi memenangkan kursi di dewan. Kalau mau menang berguru pada Cicero sepertinya tepat. :))

Well, 9 April besok, hari pencoblosan. Pastikan suara anda untuk mereka, wakil yang tepat dan pantas mewakili rakyat. Say no to GOLPUT, yah. :))))





13 Jan 2014

(Bukan) Keleidoskop

Haloo, fellas!! How are you?
Right now, right here, saya sedang bergerilya melawan kantuk. Sejak awal tahun ini, Pemda di tempat saya memberlakukan peraturan baru, 5 hari kerja dan ternyata itu benar-benar... sesuatu.. Oh, tidur siaaang.. Ini kali pertama, saya benar-benar di kantor sampai jam 4 sore. 
"Jadi selama ini empunya blog bolos kerja?", tanyamu. 
Ya dan tidak! 
Maksudnya?

Iya, karena saya memang cepat pulang kantor, dan tidak karena saya lembur di rumah, berminggu-minggu. Kelelahan, seratonin = 0. Berencana build it up by sleep, but nope. Terlanjur lupa namanya nyenyak. #skip.

Well, ini 2014. Then, 2013 is a past. Mungkin terlalu terlambat menuliskan post ini, tapi biarlah. Sebut saja semacam prolog mengawali 2014. Emm, sebaiknya tinggalkan saja halaman ini, saya berencana menuliskan pikiran random di kepala ini. :) This is my to do list.

Eh, kurang 1 >> practice more. Even englishnya berantakan. Perihal resolusi 1435 H, thats my own business!

2013 -dibanding tahun-tahun sebelumnya, sepertinya menjadi year of so many lesson. Saya melihat lebih banyak manusia-manusia dengan topeng santun yang ternyata tidak pernah peduli dengan sekitar. Terlihat sangat peduli pada orang lain, tapi ternyata untuk keluarga sendiri mereka nihil. Beberapa di antaranya adalah yang kepala saya sebut sebagai akrab. Dan itu menyakitkan. Okeh, saya ENTJ, full of judging. Orang-orang selalu berkata, 1-2 kali berbuat kesalahan, sama dengan khilaf. Lalu 3.., tapi 4-5 kali itu namanya keterlaluan.

Saya bagian dari orang-orang yang berkata demikian. Kepala saya menterjemahkannya sebagai keterlaluan. Artinya dia memang tidak peduli perasaan orang lain. Dibanding mereka yang efisien, saya lebih suka mereka yang emphatic. Apa salahnya berbicara jujur. Saya menghargai mereka yang berterus terang, even itu menyakitkan. Bukankah, tindakan bodoh bila seorang yang seharusnya terlibat, menjadi bagian yang paling terakhir mengetahui kebenaran? Artinya kau sedang sengaja menggali lubang, mencipta jarak, semacam mengusir orang-orang terdekat dengan bahasa anonim.

Keluarga bagi setiap orang adalah kekuatan. Tapi kita kadang lupa bahwa menjadi yang sumber kekuatan terbaikmu adalah juga sumber kelemahan terbesar. Iyah, seperti itu. Akan lebih mudah memaafkan kesalahan orang lain saat abai, dibanding memaafkan kesalahan seseorang yang bagi dirimu adalah bagian yang sangat akrab. Di posisi yang menjadi diabaikan, tetiba saya menyadari satu hal. Kadang seseorang berhenti peduli, bukan karena ia sudah tidak peduli tapi karena ia sadar kepeduliannya tidak dihargai. Kau tahu, apa setelahnya? Menjadi tidak peduli adalah benih todak suka yang akan menumbuhkan benci.

Saya tidak suka november, seperti membenci september 2013. Sepertinya fase terjatuh saya ada disana. Seumur hidup, itu kali pertama saya merasa menjadi orang paling bodoh. Tapi beruntung, ada begitu banyak kawan yang bersedia membagi kesedihan saya. Eh, bukan, tapi menyentil saya, lebih tepatnya. Orang-orang ini meninggalkan nasehat singkat tanpa menjadi superior pada saya. Thankful, God. Di tumblr, saya menulis seperti ini:
Beberapa orang mungkin selalu punya formula "penyembuh" untuk setiap "sakitnya". Tapi jangan terlalu yakin bahwa "makanan bergizi" selalu bisa kau temukan sendiri. Kau akan selalu butuh orang lain untuk berbagi. Zoon politicon, sudah kodratnya. 

Yapz, setiap orang butuh orang lain. Apapun bentuknya, its make me strong enough. 2013 lewat. :) Em, yang gagal total itu.. resolusi 11 teng dan 53 kg. Insomnia masih cinta mati sama saya, berat badan malah menakutkan, turun drastis ke 45. Untuk resolusi bebas celana jeans, setidaknya sedikit menggembirakan. Di 5 kali penggunaan, dia berdamai dengan baju panjang. #eh #skip.

2013.
I fall, I rise, I make a mistake, I learn, I've been hurt, but i'm alive.
I'm human and i'm not perfect. I learn to Thankful.

Then, 2014.
Things change, friends leave, and life doesn't stop for anybody.
I wonder, 2014 is a year of achieving. So, I'll stay focus on my own goals.
For 2013, for everything, thanks God.
Wish my whole day filled by love and cheers, bring a wonderful here.

Untuk para adik atau kakak di luar sana, kalau kau merasa akrab dengan saudaramu, dan ada sesuatu yang yang berkaitan dengannya, jujurlah. Sebelum itu menyakitkan. Sebab ketika seseorang tersakiti, bisa jadi seseorang menjadi mati rasa padamu. Its mean, kau tidak lagi berbeda dengan orang asing, baginya.

For sure, I'll write a good one for my 352 page books left. 
Happy 2014. Wishing everyone be happy!