Apa iya tingkat pendidikan menjamin engkau beradab?

Hai blog, what a very long time no see.

Sedang rindu menulis dan sedikit emosional untuk bercerita tentang ini. Apa masih ada kawan yang ingat blog ini? 😁



Dulu ada kawan diskusi, seorang dosen pts di barat sulawesi sana, lagi ambil pendidikan doktoral di salah satu universitas negeri di jogjakarta. Acapkali berdiskusi hal-hal random yang lagi hits. Saban hari dia bercerita betapa bobroknya kehidupan kaum intelektual ini. Beberapa dari teman doktornya yang terpisah dari pasangannya terjebak dengan perselingkuhan. Beban long distance married (LDM) jadi salah satu alasan pembenarnya, persoalan kebutuhan biologis katanya. Uniknya karena mereka kaum intelektual, metodenya elegan, main cantik, sebut saja profesional. Saat itu saya hanya mengiyakan, tidak tahu kalau ternyata dia juga pelaku. Bedanya dia bercerita tentang pasangan LDM, sedang dia masih lajang, LDRan dengan seseorang. Jumat kemarin sudah lamaran, katanya insya Allah oktober nanti walimahannya, bukan dengan pasangannya yang telah menunggunya sekian tahun tetapi dengan seorang yang baru. Tepatnya bukan baru, tapi seseorang yang lain. Sebab mereka sudah jalan sejak si calon doktor muda ini masih bersama dengan pasangannya. Bagaimana dengan pasangan lamanya? Ia berpura-pura kuat, hingga patah hatinya menjadi nisbi. 


Lalu apa menariknya pembahasan ini? 

Selingkuh perkara awam yang sudah terlalu sering didengar, dibaca dan disaksikan kisah-kisahnya. Menjadi hegemoni, dianggap benar dan biasa. Yang menarik adalah orang-orang intelektual ini, pelaku dengan background pendidikan yang bagus, terpelajar. Belajar dari kasus pak dosen calon doktor muda itu, saya mengiyakan kalau kemuflasenya benar-benar cantik. Kita sedang berbicara di luar konteks agama. Ada kecenderungan orang-orang cerdas untuk menyukai "tantangan", tanpa melihat ia sedang bermain api. Yap, open minded yang tak ber-adab. Ketika menemukan partner yang se-paham, se-kebutuhan maka mudah saja untuk selingkuh. Bahkan tidak merasa berdosa sedikitpun pada pasangan masing-masing. Bermain api di luar lalu kembali ke rumah seperti biasanya. Saya sedikit emosional menuliskan kisah ini. 


Pada beberapa orang, selingkuh bukan perkara yang harus disikapi skeptis. Sebab kalau ditarik garis tebal, ada saja sesuatu yang bisa dijadikan alasan. Bisa jadi kebutuhan fisik atau bahkan kebutuhan psikis. Berbicara seperti ini bukan berarti saya membenarkan prilaku mereka. Saya pribadi meyakini kalau komunikasi adalah kuncinya. Itulah kenapa merawat pernikahan dan merawat hubungan bukan perkara mudah. Kalau visinya keluarga sakinah, maka keduanya harus terus belajar, tidak berhenti merawat hubungan. Mereka yang berselingkuh, secara sadar telah membohongi pasangannya. Pikirkan perspektif pasangannya, sungguh betapa ruginya. 


Koq, bisa-bisanya pasangannya tidak tahu?

Faktor open minded biasanya melahirkan manuver-manuver yang tak disadari pasangannya. Mereka pemain yang handal dengan emotional control yang sangat bagus. Kolaborasi keduanya sudah cukup jadi senjata memanipulasi dan memuluskan segalanya. Singkat cerita, dari kisah pak dosen, pasangannya tertipu dengan sangat elegan. Terlebih ketika dia telah berkomitmen menikahi, perlahan pasangannya menaruh harapan besar, lalu mulai memagari diri dari siapapun yang mendekat. Komitmen itu lalu menjadi berhala kecil di hati. Yang tadinya percaya jodoh urusan Tuhan, pengharapan berubah dan tumbuh pada komitmennya. Tanpa menyadari semesta dan waktu bisa saja berjalan tak seharusnya. Jangan mengira menerima kegagalan pada komitmen adalah perkara mudah. Ia selalu meninggalkan luka dan trauma mendalam. Lebih gila lagi bila "adab" berpisahnya terlalu arogan, hanya dengan chat whatsapp. Tanpa ada penjelasan utuh, permohonan maaf, ucapan perpisahan dan doa-doa tulus untuk merelakan. Sungguh disayangkan, ternyata sekolah tinggi-tinggi bukan jaminan bahwa adabnya juga lebih baik. Siapapun kamu, belajarlah pergi dengan cara yang baik.


Well, kepada siapapun di luar sana, LDM ataupun LDR memang sangat berisiko. Kepercayaan tidak bisa dititip begitu saja kepada orang terkasih. Bahkan orang ber-Tuhan sekalipun masih saja dipenuhi godaan. Berkomitmen bukan sesuatu yang salah, salahnya pengharapan yang berlebihan memunculkan berhala baru di hatimu. 

Kepada kamu.. jaga selalu adabmu, jangan sampai melukai orang lain. Sebab Allah tak pernah tidur, entah di bawah langit mana ganjaran dari mereka yang terdzalimi, akan kembali padamu. Selalu sertakan Tuhan dalam langkahmu.



Dear SI dan NFR....

Selamat, rencana Allah sungguh luar biasa.


10 komentar:

  1. Relate banget Chi, baru aja orang di circle-ku cere dan nikah lagi sama pelakor, eh si pelakornya ini S-2 dong. Aku sempet mikir "otak S-2 nya gak dia pake apa buat mikirin sesama perempuan yg nunggu suaminya di rumah?"
    Yah tapi emang sih it takes two to tango. Kalo cowoknya nggak ngegaruk juga nggak mungkin yang gatel2 itu tetap mendekat..
    Maaf ya jadi emosi juga, wkwkwkwk

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tarik nafas mba del. Heheh

      Banyak perspektif sih mba klo menurut saia, masing2 ada "kekhususan" cerita. Karena ini pasangan LDR, ada kemungkinan
      calon istrinya pak doktor jg nda tau, who knows. Wallahu a'lam

      Delete
  2. Astagaaa.. Welkombek Maaakk.. Somehow I miss Yuu (Padahal saya juga hiatus berkepanjangan, dipeluk oleh mood, ah.. alasan :p).

    Saya ingat beberapa hari lalu pernah bikin status di FB, saking herannya sama perilaku selingkuh. Kenapakah ndak bisa mereka ikuti tahapan yang baik saja, kalau tidak suka lagi atau berpikirlah tindakannya akan menyakiti pasangan sementara hasrat selingkuhnya lebih besar, putuskan saja, cerai saja dari pada menyakiti. Ini egonya diikuti, malah menyakiti dan berbahagia sendiri *oh, oke..berdua sama selingkuhan.. hufthh..

    Cuma modal beberapa kali dengar curhatnya rang-orang di YTnya Rachel Goddard ya ampyuuun, kek.. setiap orang selingkuh ji dan itu wajar. Helllooww... sa berada di kalangan kolot kah ini? Ckck..

    Maap esmosi kalau bahas selingkuh.. baru "ketemu" saya sudah misuh-misuh di kolom komentar. wkwkwk..

    Sehat-sehat ji toh Maaakkk...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Miss yuuuuu to maaak. Ternyata sebegini noraknya bangkit dari hiatus yaah. Hahhaha


      Sepakat saia maak, soalan topik ini, sya lebih prefer ke adab nya sih. Apalagi untuk kaum intelektual ini. Apa salahnya jujur dari awal. Namanya mulai baik2 ya harus selese baik2, sampaikan sekalipun menyakitkan. Biarkan pasangannya tau duduk masalah seutuhnya. Toh, ia akan ambil pilihan/ keputusan yg bisa dimakluminya. Memikirkan baik2 konsekuensi setiap pilihannya. Sekalipun menyakitkan, setidknya dia tidak terus-menerus terkurung dalam kebohongan pasangannya.

      Semoga kita smua dijauhkan dari perkara seperti ini.
      Sehat terus kamu maaaak.

      Delete
  3. Entah mengapa saya kok sedikit skeptis, adakah lembaga pendidikan yg benar² mampu membenahi ego? Malahan justru membangunnya sedemikian epic, mungkin.

    Dan mengenai adab yg saya tangkap dari cerita bu Acci, meski masih berakar dari ego, mungkin lebih mengarah pada psikis atau kewarasan dalam berkemanusiaan. Bahkan manusia paling rasional sekalipun terkadang bisa kehilangan nalar ketika sedang mabuk akan sesuatu yg anda sebut berhala kecil itu.

    Akan tetapi mengenai romansa saya tidak bisa berkomentar banyak. Karena memang banyak faktor yg mungkin kita tidak benar² tau kedalamannya. Pastinya seleksi alam punya peran penting disitu.

    Saya suka dengan kata² penutupnya.

    Oh ya very long time no see, grandmaa..kmn ajaa *ahhhihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Gitu kamu yah, berani2nya manggil grandma!!! Hahaha. What a very longtime no BW ya san. Ternyata blogmu masih eksis.


      Adab seharusnya tdk terbatas oleh ruang dan waktu. Sebab akar habluminannas ada disitu.

      Harus dinotice baik2 ini mah.

      Delete
  4. Menambahkan juga kak. Menurut saya perselingkuhan tidak hanya melalui hubungan fisik, hubungan non fisikpun bisa jadi kategori selingkuh. Kasus teman saya yg LDM dng pasangannya jg spt itu. Padahal dr sisi perempuannya berpendidikan tinggi sampai jenjang S2. Berawal dr sebuah hobi tapi hampir setiap hari mereka selalu kontak melalui media sosial. Biarpun itu hal sepele karena mungkin menurut mereka tidak ada kontak fisik tp hal itu tetap membuat tidak nyaman bagi si istri. Anehnya lagi si perempuan yg berpendidikan tinggi itu belum menikah dan merasa nyaman dngn hubungan seperti itu walaupun tdk ada kontak fisik. Dan merasa itu sesuatu yg biasa saja. Sepakat dengan kalimat orang bertuhanpun tak kan luput dari godaan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada banyak perspektif ya. Setiap kasus punya kekhususan masing2.
      yang pasti diposisi korban, sedihnya luarbiasa.

      Bagaimanapun kondisinya, semoga sesiapapun yg jdi korban di luar sna, selalu diberi kesehatan dan keberkahan. Semoga setiap sedih dan airmatanya dikantikan dengan kebahagiaan berkali2 lipat.

      ^^

      Delete
  5. Membaca tulisan ini, ada gemes banget. Orang pinter kok gitu. Di mana akhlak? Maka, benar para ulama, pelajari adab dulu baru ilmu.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Banget mas.
      Gemees smpai ke ubun2, auto emosional saia. Hahahah.
      Cukup Rabb yg membalas smuanya, dengan balasan yg setimpal.

      Delete

Kawan, silahkan tinggalkan jejak,,,

 

Friend List

Flickr Images

Blogger Perempuan