Do People Judge Books by Its Cover?

Celoteh dini hari.
Ayo hitung... 
Berapa banyak kali dirimu terjebak untuk menilai seseorang secara subjektif? : )

Saya hampir selalu subjektif menilai seseorang, misalnya saja Indra Herlambang (postingan kemarin) atau si Aming, bahkan Rieke Dyah Pitaloka "si Oneng" yang anggota DPR tuw. Objektifitas baru muncul ketika kita menemukan novum (bukti baru) yang seolah-olah membuyarkan wujud fisik dari mindset yang sudah mengakar sebelumnya. Atau kalau tidak, secara alami, objektifitas akan muncul ketika ada perbandingan antar objek.  Duh, bahasanya ribet yakz. 

Nyolong gambar dari mbah google

Sebut saja Mbak Rieke "si Oneng" (Wih, mantabz bener ibu satu ni).  Dulu, dulu sekali, saya tidak pernah menyangka kalau si oneng nan oon (istri bang bajuri di bajaj bajuri) adalah jebolan S2 filsafat UI. Pengetahuan saya tentangnya hanya sebatas, ia seleb dan suka teater. Kecintaannya pada seni benar-benar "sesuatu". Jaman ngampus di jatinenjer, saya kadang ijin keluar demi melihat bagaimana khusuknya mbak rieke saat pentas). Dia total, saya suka, apalagi kalau sudah adu akting dengan Ria Irawan. Mantabz bener. Mendadak merindukan beliau memperkosa ekspresi di atas pentas. Kalau saya boleh diberikan kesempatan menilai kualitas aktingnya, sepertinya saya akan mengatakan bahwa ia pantas berada di level dimana Christina Hakim, Ria Irawan, Dian Sastro, Nicholas Saputra, atau Matias Muchus berada. #Skip

Dan, sama tidak percayanya ketika seorang kawan mengenalkan saya pada salah satu tulisannya, “Renungan kloset : Dari cengkeh sampai utrech”. Bagi saya, kumpulan puisinya itu brilliant. Yah, saya selalu memiliki pandangan yang sedikit “wah” pada mereka yang suka menulis pun mencintai sastra. Agak  sulit menjelaskan mengapa, bagi beberapa orang itu mungkin biasa saja, tapi kepala saya menganggap itu kompleks, unik, mengkolaborasi hampir setiap elemen krusial, intuitif, sisi psikis, intelektual dan ah, entahlah. Kompleks yang elegan. Saya sedang tidak ingin membicarakan itu. Sangat disayangkan, sekarang saya hanya mampu mempelototi kisahnya dalam episode-episode telenovela politik Indonesia. Saya jadi penasaran dengan tesis beliau “Banalitas Kejahatan: Aku yang tak mengenal Diriku, telaah Hannah Arendt Perihal Kekerasan negara” yang bahkan oleh Galang Press diterbitkan dalam buku dengan judul “Kekerasan Negara Menular ke Masyarakat”. Kapan hari, saya akan lebih bersemangat mencari buku ini. 

Do people judge books by its cover??

Judge bisa jadi adalah elemen kecil subjektifitas. Kalau saja subjektifitas adalah atom, maka dalam sepersekian nano atom, judge bertakhta dengan sempurna. Ia ada, dalam kuantitas minor. Koloninya kecil tapi juga jadi pembentuk subjektifitas. Dan tanpa peduli berapa kuantitasnya, saya menganggap itu sama. perbedaannya hanyalah judge lahir lebih dahulu, setelah sekian waktu berlalu, subjektifitas ada di belakangnya, mengekor dengan pasti. Karenanya saat pertanyaan itu ditujukan pada saya, jawabannya adalah iya.

Yah.. banyak kali. Terlebih lagi saya ada kebiasaan suka memperhatikan orang lain. Tingkah laku, gaya bicara, bahasa tubuh, punggung dan gaya berjalan (khusus dua yang bontot sudah jadi kebiasaan sejak mata kena vonis miopi, sangat membantu mengenali seseorang). Bedanya, saya membuat kesimpulan tentang seseorang setelah (setidaknya) 3 kali bersama-sama secara intens, dengan atau tidak dalam suasana hati yang sama. Kalau sudah demikian, sedikit banyak sifat dan kebiasaannya pasti ketahuan dan dengan asyiknya saya akan mengumpulkan satu demi satu kesimpulan. Artinya subjektifitas (saya) tumbuh dari sekian banyak judge yang muncul secara kontinu dan konstan. Meski begitu, nilai kebenarannya tentu saja tidak selalu valid. Yang valid adalah bentukan mindset di kepala saya tentang objek tersebut.

For example, sempat mengecap sekolah berasrama dengan kawan dari hampir setiap suku yang Indonesia, seolah-olah membuat saya panen hobi memperhatikan orang tiap hari. Bahkan tak jarang saya sengaja meluangkan waktu (biasanya lepas lari siang) sengaja duduk-duduk di ruang belajar, atau teras depan hanya untuk memperhatikan tingkah kawan atau adik tingkat di pelataran barak. #kurang kerjaan. 
Ruang belajar di barak, meja punya saya pas di sudut dekat jendela, pas bener buat  nongkrongin  kawan atau siapapun yang  lalu lalang depan barak plus portal bawah. 
Yah, 24 jam sehari, 7 hari dalam seminggu sepanjang 3 1/2 tahun membuat saya memahami sedikit banyak sifat dan karakter kawan, hingga menarik semacam garis karakter per pulau, per suku. Yang paling saya yakini hingga saat ini bahwa orang Sulawesi Selatan (Bugis atau Makassar), Medan (Batak), Sumsel (Melayu Ilir) dan Papua adalah empat suku yang paling bisa memahami emosi masing-masing (Ini bukan postingan SARA, no bash). Maksud saya, keempatnya memiliki tipikal bahasa verbal yang hampir sama. Lebih mudah untuk memahami satu sama lain. Sangat subjektif.

Cerita sedikit, awal-awal kuliah (tingkat satu) keempat suku tadi paling sering berselisih faham dengan kawan dari jawa. Mungkin semacam "culture shock". Perbedaan mencolok diantaranya punya potensi bergesekan. Keempat suku sebelumnya punya timbre suara yang menghentak, sedikit tinggi, cenderung ribut, sedangkan Jawa terkenal dengan bahasa verbalnya yang lembut apalagi Sunda (sampai sekarang saya masih bingung, kenapa laki Jawa sama neng sunda susah akurnya? Kekal bener kayaknya kisah Hayam Wuruk dan putri Dyah Pitaloka. Gak nyambung. #Skip). Ini baru sisi verbal, belum non verbalnya. Saat mereka bertemu, tanpa pengenalan sebelumnya, pun persiapan mental yang baik, ditambah chauvimisme yang mendalam, bukanlah hal yang mudah untuk selalu menciptakan damai. Syukurlah, sekolah dibentuk oleh sistem yang membuat semuanya padu perlahan-lahan.

Last.
Bagi saya, manusia secara individual selalu menjadi bagian yang paling menarik. Bahwa siapapun selalu memiliki sesuatu yang mengejutkan. Judge, subjektifitas termasuk didalamnya. Dan jiwa manusia sejatinya penuh dengan itu. Tidak perlu munafik, saya, anda, dan semua adalah jazad seperti itu. Perbedaannya hanyalah sudut pandang dan kematangan novum sebelum menyimpulkan. Tapi yang pasti, "Judging a person does not define who they are... it defines who you are". 

Random :
Dini hari, kepala bukannya makin cling, malah nyerempet kemana-mana.

21 komentar:

  1. manusia emang objek yang paling bagus untuk kita petik peajaran di dalamnya :D
    apaa saja :)
    karena selalu ada hal menarik dalam diri tiap insan :)

    and do people judge the book by it's cover?? i think, not anymore ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. namanya kita manusia yah, pasti bisanya petik pelajarannya dari sesamanya juga. gimana mo bijak nanti klo belajarnya dri spesies lain. hihihi #skip

      bagus klau tidak, klo saya pribadi kesan pertama itu kadang susah dilupakan. apalgi klo cuma sesekali bertemu dgn orgnya, pasti yg paling diingat pas pertama ketemu.


      Delete
  2. Saya kalo soal buku emang nge-judge dari penampilannya. Biarpun isinya bagus, kalo covernya gak menarik biasanya jarang tergoda, apalagi kalo kertasnya kertas buram :D Tapi, kalo banyak yang rekomendasiin, tertarik juga sih, meskipun covernya gak menarik buat saya.

    Kalo orang... Hmm... Mungkin bukan men-judge berdasarkan penampilan melainkan men-judge berdasarkan kesan pertama. Kalo dari awal itu orang sudah nyebelin, biasanya seterusnya saya tetep males berurusan sama orang itu :D

    Btw, musik di blog ini lagu apa n lagunya siapa sih? Gitarnya asik.

    ReplyDelete
    Replies
    1. untuk buku, yang sampulnya hitam tetap saja jadi pemenang buat dibeli. elegannya dak nahan. :)

      Do people judge book by its cover??
      absolutely yes, karena kesan pertama begitu menggoda. mang iklan? bhahahhaha..
      klo pengalaman sya, sempat ketemu kawan yg nyebelin minta ampun tp siapa nyana lama2 malah jadi makin klop, bisa akrab dan akur saja sampai skg. Apa yah, bagi saya judge-subjektifitas-objektifitas itu proses. dan prosesnya itu yang akan menunjukkan di level mana karakter pribadi kita. :)

      ini gitarnya sungha jung pas cover lagunya G-Dragon (Big Bang) yang That XX. Suka saya, biasalah mbak, korea. heheh

      Delete
  3. izin kak bukan kah kita hidup dengan sebuah pemahan bahwa penampilan itu yang pertama walau memang bukan yang utama karena memang mau tidak mau hal yang akan pertama kali dilihat adalah penampilan kita, bungkus kita yang secara fisik terlihat jelas oleh mata.

    ReplyDelete
    Replies
    1. eits, "hidup dengan sebuah pemahaman bahwa penampilan itu yang pertama walau memang bukan yang utama", itu subjektif loh diks. :) tdk ada jaminan setiap org akan berpendapat sama. ada sekian banyak faktor x yang bisa menciptakan penilaian.

      kalau saya penampilan dan kesan itu beda. dan kebetulan, saya lebih nyaman menyebutnya kesan. karena kenapa? kesan lebih dekat ke psikis, sisi non verbal, bhasa tubuh, lebih jauh lagi bahasa universal, bisa dimengerti sekalipun bahasa ampun2 anehnya. tapi kalau penampilan itu lebih dekat ke fisik. So, bedanya jauh. :)

      Delete
  4. Jadi inget buku Crucial Conversation. Salah satu aspek kenapa kita sulit sukses dalam menghadapi percakapan krusial adalah karena kita sering "menyelipkan" cerita kita (atau dalam bahasa mbak Achi, "judge" kita) di antara apa yang sebenarnya terjadi dengan apa yang terjadi menurut pandangan kita.. :)
    Buku "Banalitas Kejahatan" beberapa waktu yang lalu saya lihat "teronggok" di rak paling bawah di toko buku yang sering saya kunjungi. Sempat saya lihat sekilas, namun karena bahasanya di luar kemampuan "interpreter" saya, akhirnya saya skip. Jadi menimbang ulang untuk beli deh.. ;-) Kalau g salah cuma ada 1 eksemplar.. :D

    #btw, sepakat banget dengan quotes di akhir tulisan ;-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. baru dengar judul bukunya. saya mmg kurang di buku2 literatur, taunya novel terjemahan doang. hahahha..

      kalo bukunya mbak rieke, sama sja bg. ane juga belum pernah nemu fisiknya. sepertinya saya penasran gegara terhipnotis taglinenya. well, kalau dah punya plus dah baca, bolehlah diwariskan ke saya. wkwkwkwkwkkk

      Delete
    2. Crucial Conversation tu buku psikologi populer, koq.. :p Kalau baca literatur mah bakal tidur saya :D

      "Tawaran" di paragraf terakhir akan dipertimbangkan B-)

      Delete
    3. buku2 psikologi punya sya, dak ada yg judulnya aneh bin ajaib bg. crucial conversation itu kedengaran berat. tp klo kata bg yuan kagak, wes dimasukin list hunt kalau begitu.

      wow, mantraap. prooook...proook.. kalo acc, degn senang hati saya terima bukunya, bg. :)

      Delete
    4. Bukunya yang ini --> http://www.gramediapustakautama.com/buku-detail/79271/Crucial-Conversations---Strategi-Menghadapi-Percakapan-Berisiko-Tinggi

      Buku yang paling sering berada dalam tas saya. Saking seringnya, bukunya jadi bulukan + sampulnya berulang kali robek (kalau g salah saya ganti sampul sampai 4 kali) :D

      Delete
    5. wow, se-intens itu?
      keknya hobi bacanya tingkat tinggi neh.

      Delete
    6. hahaha.. bukunya cuma numpang nangkring doang koq.. :p

      Delete
  5. Lama gak mampir di marih! Slalu sesuatu ini yang gue dapet dari seorang Accilong yg ternyata nama aslinya adalah Asriani Amir [ini juga baru gue tau], book, buku dan bedah yg brilian! ;-) gue suka cara elo ngebedah sesuatu, chi! Mantep!

    ReplyDelete
    Replies
    1. oiii..oi... ini bukan books review, mas (bukan)e'ek. #upss
      yuhu, ane juga keseringan hiatus, wajarlah lama tak say hi. but, tingkyu dah klo suka ma bahasa postingannya. mugi2 jdi smangat buat nulis. sumpah, rasa2nya skg makin susah ajah mo nulis apa. ckkckkk

      Delete
    2. Ye'elah, gue juga tau ni juga bukan book repiu, neng! Tp kan banyak beud post dimari yg ngerepiu buku? Nah, kalo ini repiu penulis buku, ttg oneng, ttg indra herlmbng yg gue baru tau kalo dia ternyata penulis juga... Hehehe

      Delete
  6. rasanya saya sepakat mbak..
    kesan, penilaian subjektif, stigma semua dibuatsecara otomatis karena sejatinya manusia adalah mahluk yang dikaruniai karsa, rasa dan cipta. nah stigma atau judge itu juga bagian dari rasa..yang terbentuk dari pengalaman

    saya stuju Sulawesi Selatan (Bugis atau Makassar), Medan (Batak), Sumsel (Melayu Ilir) dan Papua mereka cepat saling paham.. juga gesekan antara keempat suku dengan Jawa..ya culture shock saya sepakat (y)

    hmm kalo yang antara lelaki jawa dan eneng dari sunda sepertinya itu hanya mitos kak, lagi" subjektifitas dan stigma.. itu juga culture shock kak yg saya tahu :)

    so kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, ada opanya mbak bonitz. :)
      mungkin tepatnya manusia itu adalah pengamat, penikmat. judge selalu ada, asal bukan "menghakimi".

      mitos yah? jaman sy ngampus, ada loh kawan yg frontal bener ttg mitos itu. sya cuma bisa blg, ternyata masih ada.

      Delete
  7. Weeew.... lama sudah aku tak kuncing ke blogmu mbak Asri, ternyata banyak sudah makanan dan minuman yang bisa disantap.:-D mumpung laper nih malam2.:-D

    ReplyDelete
    Replies
    1. weh, yuhu boz. lama tak bersua di maya. #doh, bahasanya.
      weis, sikat abis sja boz. mugi2 barokah. #eaaa

      Delete
  8. Lam kenal aja dech, bingung mo koment apa nih,hehe...!!!

    ReplyDelete

Kawan, silahkan tinggalkan jejak,,,

 

Friend List

Flickr Images