Check Your Priority!

Pict from here 
Saya paling tidak suka dengan orang-orang yang tidak bisa bekerja berdasarkan prioritas. Dalam kondisi biasa mungkin saya akan maklum tapi ketika dihadapkan dengan waktu yang kasib/ singkat, kejar deadline, saya rasa prioritas menjadi wajib. Seorang perempuan, yang konon katanya dikaruniai Sang Pencipta dengan kemampuan multitasking harusnya bisa melakukannya dengan lebih baik. Kalau sudah demikian, bukankah kolaborasi keduanya adalah aset yang sangat potensial?? Saya rasa, punya kemampuan multitasking yang lebih baik ditambah bekerja berdasarkan prioritas, apapun bisa dimaksimalkan. Betapa sia-sianya jika dua  hal itu dibiarkan percuma. Mubadzir. Kita harus mulai belajar memaksimalkan apapun yang kita punya untuk pencapaian terbaik. Saya tidak berani bilang akan selalu berhasil (toh, berhasil atau tidak selalu ada campur tangan Tuhan), juga tidak berani bilang kalau saya orang paling ahli dalam urusan itu tapi saat keduanya dilakukan, setidaknya saat kita mengusahakannya, punya keinginan melakukannya, saya percaya, hasilnya pasti maksimal. 

Yah, saya sedang kesal. Sungguh, saya menjadi kesal saat itu disia-siakan. Mungkin saya terlalu perfeksionis. Tapi salahkah menginginkan yang terbaik untuk orang-orang sekitar kita? Saya tidak akan bercerita detailnya, yang pasti kali ini saya benar-benar kesal. Dan maaf, tidak seharusnya berbagi hal seperti ini disini. Tapi saya pikir, mungkin saja, ada yang bisa mengambil hikmah dari kekesalan saya. Benar-benar maaf.

27 komentar:

  1. memaksimalkan apapun yang kita punya untuk pencapaian terbaik.

    Tapi saya pikir, mungkin saja, ada yang bisa mengambil hikmah dari kekesalan saya.

    Dua bagian yang bisa digarisbawahi di sini. Prioritas, karena pada titik-titik tertentu, apa yang diinginkan tidak bisa semuanya dapat terealisasikan (tentu, seperti katamu, ada campur tangan Tuhan).

    ReplyDelete
    Replies
    1. berarti dirimu adalah satu dari sekian yg bisa mengambil hikmah, ry. selamat dah, pikiran positif belum almarhum rupanya.

      Delete
    2. Bukan perfeksionis. Hanya berusaha menempatkan sesuatu sesuai hierarkinya..

      Delete
  2. "Tapi salahkah menginginkan yang terbaik untuk orang-orang sekitar kita?"

    betul kak, tapi kadang kita juga harus proporsional. Tidak dalam semua hal kita harus ikut campur, tidak dalam semua masalah kita harus ikut terlibat. Izin kak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. proporsional, berarti akan melibatkan sejumlah variabel pembanding. akan ada sebab dan akibat.

      sya tidak akan kesal tanpa alasan. tentu saja, sya kesal karena itu melibatkan sya. inconsius mind sya berontak ketika sya sudah mencoba maksimal sedang sekeliling saya acuh, bergeming.

      Delete
    2. betul kak.

      kesal memang selalu akan ada alasannya tapi terkadang kita harus menyempitkan lagi definisi "melibatkan" dan "acuh". karena standar "melibatkan" serta "acuh" yang ada di khalayak luas terkadang bahkan seringnya berada di bawah standar orang-orang seperti kakak, yang terbiasa dengan sikap empati atau respect dalam doktrin. izin kak.

      Delete
    3. karena standar "melibatkan" serta "acuh" yang ada di khalayak luas terkadang bahkan seringnya berada di bawah standar orang-orang seperti kakak, yang terbiasa dengan sikap empati atau respect dalam doktrin.

      entah ini pujian atau bukan, tp saya tdk berani membenarkan. dunia kerja membuat qt tau batasan dan standar, beda kasus akan beda tindak lanjut dan sya yakin ini masih wajar.

      respect terhadap doktrin, ibaratnya pohon, itu melahirkan banyak ranting, akan banyak spekulasi. tdk melulu terbiasa dgn doktrin akan berefek sma, objeknya manusia, variabel yg punya banya konotasi. beda person beda efek, tdk akan melulu sama.

      oya, diks. sepertinya dirimu harus stop dgn bahasa izin kak. sya lebih senang berdiskusi tanpa embel2 senior junior. :)

      Delete
  3. buseetttt dahh.... tanduknya udah bercabang berapa tuh bu??? :d

    ReplyDelete
    Replies
    1. kemarin2 klo ane perang chat sma dirimu bg, keluar tanduk berapa?? yg sekrg 10 kali lipatnya boz.

      bersyukur, sekian jam terlewat, sepertinya suhunya mulai mendngan. fusi sudah hampir berakhir, residunya kecewa skg.
      #doh, curhat

      Delete
  4. Hweeeeeee... Saya baru tau kalo perempuan itu konon katanya dikaruniai Sang Pencipta dengan kemampuan multitasking... *ngaca* *kalo ingat kemampuan multitasking, jadi gak yakin kalo saya perempuan :|

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalo ingat kemampuan multitasking, jadi gak yakin kalo saya perempuan.

      wkwkkwkwkk, mae, komenmu itu loh. finally make me hve a great laugh. thanks dear. its a big freshing for me. :)

      Delete
  5. Setuju banget kalo perempuan itu memiliki kemampuan multitasking. Kerja di luar rumah bisa, kerja mengurus pekerjaan rumah juga bisa :D

    Kekesalah Kak Achi malah jadi sangat bijak begini. Semengat profesionalisme :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hei, ane lagi kesal koq dibilang bijak.

      well, tingkyu dah klo bisa nemu hikmah juga dri kesalnya sya.

      Delete
  6. Hmmm ... seperti inilah belantara hidup, bertemuu beragam karakter, bahkan pada orang2 terdekat. Btw, kopdar blogger kemarin datangkah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. betul mbak niar, ada begitu banyak karakter.

      kopdarnas yg di makassar? duh, sya gda waktu. enrekang-makassar 6 jam, ditambah kesibukan kantor dan rumah. padahal mupeng benr mo ikut. apa bleh buat, prioritas mesti diutamakan, mbak. eheheh

      Delete
  7. memang begitulah hidup,terkadang bekerja sendiri lebih baik hasilnya dibanding bekerja dengan banyak otak

    ReplyDelete
    Replies
    1. benar bang.
      tp klo skala besar, rempong juga klo sndiri.

      Delete
  8. wah, ada yang lagi kesal...

    ReplyDelete
    Replies
    1. heheh... iyah kanda
      maklum sya masih manusia. :)

      Delete
  9. Multitalent juga, gak chi? :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iyah dungz, mas.
      multitasking kan talent tuw. #maksa

      Delete
  10. Blog itukan salah satu diary online jadi ungkapkan aja... daripada kekesalan itu disimpan sendiri...
    Mengharapkan yang terbaik untuk orang lain memang sebuah hal yang mulia tapi pertanyaannya adalah "apakah kamu telah menyampaikan maksud tersebut pada orangnya?"

    ReplyDelete
    Replies
    1. adalah pekerjaan sia-sia bila hanya berkeluh kesah tanpa disampaikan kepada orangnya langsung

      Delete
  11. jadi keinget juga, saya pernah dapat materi managemen prioritas di kampus :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wow, sedikit banyak pasti dapat nilai positifnya nih berarti.

      well, salam kenal. sepertinya pertama kali menjejak yah :)

      Delete
  12. Anda sangat berbaik hati, membagikan hikmah kpd banyak org melalui kekesalan anda! Namun, apakah anda sendiri telah mnemukan hikmah di balik kekesalan yg anda alami ????

    Anda begitu bijak, ketika anda menginginkan yg trbaik u/ org-org disekitar anda. Dan saat itu pula mereka menjadi tantangan bagi anda, yg menguji seberapa kuat dan seberapa hebat anda memaksimalkan sistem multitasking anda :D

    KESAL itu biasa.. SABAR itu luar biasa !:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. jgn bilang sya bijak. alergi euy.

      setidaknya sya sedikit plong, dan berharap ada yg bisa mengambil hikmah dari kekesalan sya.

      Delete

Kawan, silahkan tinggalkan jejak,,,

 

Friend List

Flickr Images