Robert Harris, Imperium

Imperium by Robert Harris
Judul : Imperium
Penulis : Robert Harris
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Halaman : 416
(Cetakan kedua Juli 2008)


"Adalah Marcus Tullus Cicero, seorang senator biasa yang berambisi meraih jabatan tertinggi di Republik Romawi. Dengan kecerdasan dan bakat diplomasinya berjuang penuh demi mewujudkan impiannya."

Ini adalah buku ketiga yang saya akrabi di awal tahun ini dan menjadi buku pertama yang sukses dikhatamkan tidak lebih dari seminggu sejak menyibak halaman pertamanya. Sangat berbeda dengan dua buku lainnya, "Perfect Match" nya Jody Picoult dan "24 Wajah Billy" karya Daniel Keyes. Yang pertama khatam setelah sekian bulan, sedang yang kedua bahkan kembali terhenti tepat di tengahnya. Terlalu membosankan, sama sekali tidak menjawab ekspektasi saya pada buku-buku yang mengangkat tema psikologi yang biasanya selalu menarik.

Well, kembali ke Imperium. Ini kali pertama melahap buku Robert Harris dan yah, ada sedikit perasaan menyesal kenapa saya begitu tega membiarkan buku ini perawan di rak selama hampir setahun. Oh, my... Pertama, settingnya romawi, salah satu dari sekian tempat yang selalu mengambil alih ketertarikan saya, seperti yunani, jepang dan korea selatan. Yah begitulah, saya mencintai budaya mereka, termasuk seni dan apapun tentang tempat-tempat tersebut. Sedikit keterlaluan memang. :))) Kedua, bisa dibilang ini novel politik. Yang entah kenapa di kepala saya juga terpetakan sebagai sesuatu yang menarik. Intrik-intrik yang menjalin koherensi cerita, sederet ironi, sejumlah skandal, kawan dan lawan yang terus berubah, manuver-manuver yang tiba-tiba, tidak tertebak. Aisshh, itu menarik. Ini mengaktifkan tombol penasaran dan keingintahuan di kepala saya tanpa bisa mengendalikannya. Jadi wajar saja kalau jaman kuliah dulu, saya selalu semangat dengan mata kuliah studi kasus politik pemerintahan. :D

Robert Harris menawarkan kisah Marcus Tullius Cicero dalam 416 halaman yang sangat bersemangat. Sangat menarik bahwa perjalanan hidup, sepak terjang Cicero diceritakan dalam sudut pandang seorang Tiro, sekretaris pribadi Cicero. Seorang budak yang bagi Cicero adalah kawan baik yang selalu bisa diandalkan, seorang penemu sistem steno yang benar-benar ringkas.

Apa bagusnya buku ini?

Seperti tulisan saya di paragraph sebelumnya bahwa yang menarik dari novel politik adalah intrik-intrik dalam dunia politik itu sendiri. Dan "Imperium" adalah salah satu yang mewakili hal itu. Bab demi babnya padu, sangat mudah dicerna, seolah-olah kau menyaksikan dengan baik peristiwa-peristiwa itu dengan mata kepalamu sendiri. Komposisi narasi deskriptifnya pas, sama sekali tidak berlebihan. Sangat mudah dipahami. Sepertinya saya sangat kompromi dengan terjemahan mbak "Femmy", takarannya pas. Sederhana tanpa kesan biasa. Menarik. Tetiba saya ingat terjemahan Perfect Match nya Jody Picoult, sangat tidak nyaman di saya.

Belum lagi kisah yang dituturkan. Kalau kamu tertarik dengan politik dan berniat bermain di dalamnya, mungkin kamu harus menyempatkan diri membaca buku ini. Mengapa? Sebab sekalipun buku ini hanya memuat tindak tanduk Cicero, tetapi setidaknya kepandaiannya, retorika, semangatnya bisa menjadi masukan bahkan bahan pertimbangan. Tindak tanduknya semacam rangkuman tips and trik politik yang mumpuni. Sangat mengesankan bahwa Cicero memiliki kebiasaan dan meyakini bahwa terkadang seseorang harus memulai pertempuran untuk mengetahui cara memenangkannya. Pikirannya menjadi jauh lebih cemerlang saat ia mengalami sendiri hal-hal yang belum diketahuinya. Ia mencari tahu dengan menjalani. Semacam perjudian.

Sedikit yang mungkin mengganggu>> sederet nama tokoh dan klan yang tidak biasa mungkin akan mengacaukan ingatan. Oh, iya. Namanya juga novel politik, ada sekian banyak istilah politik yang khas romawi, everything about senat. Di awal-awal saya bertanya, harusnya buku ini punya foot note, biar lebih memudahkan. Dan baru saja saya memikirkan itu, di halaman berikutnya sudah terpampang dengan rapi. Sayangnya tidak kontinu, dan ada beberapa istilah yang dipakai tanpa ada penjelasan pasti. Padahal dikatakan bahwa buku ini disusun melalui riset yang teliti. Sepertinya "hole"nya disini. Kurang lengkap perihal istilah.

Well, ada beberapa quote yang menarik menurut saya. Check this out:
  • Kekuasaan memberikan banyak kemewahan bagi manusia tetapi dua tangan yang bersih jarang termasuk di dalamnya. (Hal. 14)
  • Ketekunanlah dan bukan kejeniusan yang mengantatkan manusia ke puncak. (Hal. 96)
  • Saraf harus setegang tali busur jika ingin panah melesat. (Hal. 300)
  • Seni kehidupan adalah mengatasi masalah ketika ia muncul, bukannya menghancurkan semangat dengat mencemaskan hal-hal yang terlalu jauh di depan. (Hal. 412)
Tentang trik-trik politik dan manuver-manuver khas romawi yang kalau dipikir-pikir masih relevan dengan saat ini, sepertinya harus kau temukan sendiri. Tak akan rugi kawan. Kau bahkan bisa menemukan sederet fakta tentang masa muda salah seorang yang saat ini diingat dunia sebagai pembesar Romawi, Gaius Jullius Caesar. 

Em.., dan sepertinya membaca Imperium atau novel politik di waktu-waktu dekat Pemilu Legislatif seperti ini benar-benar menyenangkan. Saya tidak bisa mengontrol imajinasi di kepala ini tentang bagaimana sibuk bin repotnya para caleg menggalang suara demi memenangkan kursi di dewan. Kalau mau menang berguru pada Cicero sepertinya tepat. :))

Well, 9 April besok, hari pencoblosan. Pastikan suara anda untuk mereka, wakil yang tepat dan pantas mewakili rakyat. Say no to GOLPUT, yah. :))))






5 komentar:

  1. bacaannya pas sama momen. hehehe
    aku juga ada banyak buku yang kubirkan perawan di rak buku. entah kapan aku mau baca, yang penting punya dulu *ajaran sesat.
    kayaknya harus baca imperium nih. lagi seneng baca yang berbau politis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ternyata momen yg tepat ada hubungan timbal blik sama animo memilih tema bacaan. Langsung khatam. :))))

      Bukan ajaran sesat koq. Kebetulan sy jga penganut>> yg penting punya dulu, bacanya urusan belakang. Disesuaikan sama kondisi.

      Delete
  2. saya kurang suka dengan novel2 karya orang luar negri, gak tau kenapa dan mungkin belum waktunya kali yaa... soalnya belum pernah nyoba khatamin hehee

    ReplyDelete
  3. Faktor kebiasaan mungkin.

    Klo koleksi saya, kebanyakan malah buku2 terjemahan, yg produk dlm negeri kebanyakn yg genrenya sastra. Dewi lestari yg paling dominan. Apa yah? Mungkin krna kebiasan itu td. Jaman masih bocah buku pertama yg dilahap tuw buku trio detektif, terjemahan juga. Keseringan, kebawa-bawa mpe sekarang. Rak ful buku2 terjemahan.

    ReplyDelete
  4. Mba Asri, salam kenal saya Dea Tantyo ga sengaja masuk ke blognya. Well, ternyata ketemu pembaca Robert Harris juga. Saya juga punya banyak novel Robert Harris. Dan buku yang pertama bikin saya kesemsem ya buku Imperium ini. Kalo mau saya ada buku Conspirata lanjutan Imperium ini yang sudah jarang di toko buku. Email saya dea.tantyo.iskandar@gmail.com. Thx

    ReplyDelete

Kawan, silahkan tinggalkan jejak,,,

 

Friend List

Flickr Images