Belajar dari Mereka

Tiba-tiba teringat pengalaman saya seminggu yang lalu. Bangun setengah panik saat sadar sudah jam 5 sore. Dua hari di Makassar menyelesaikan sedikit urusan, rasa-rasanya seperti bukan 48 jam. Kota Metro melumat penanggalan dengan sempurna. Ini 30 Juli, itu berarti besok hari pertama puasa dan bertepatan dengan libur mahasiswa. Itu berarti penumpang akan membludak dan tentu saja akan berbanding lurus dengan kesulitan mendapatkan tumpangan. Omigoott.. jangan sampai. Saya ingin sahur dan puasa pertama di rumah  bersama keluarga. Sedikit bergegas menuju terminal, setelah sejenak mengumpat diri karena ketiduran.
Sejurus kemudian akhirnya tiba juga di terminal. Mata saya sibuk menyapu pemandangan sekitar terminal. Dengan cepat mata saya terpaku pada pemandangan kontras, seorang lelaki paruh baya dengan seorang perempuan ber-daster di sisinya. Perempuan dengan tatapan kosong, mungkin 37 tahun.. ah, tidak... Sepertinya 33 tahun, mungkin ibu dari seorang atau dua orang anak. Tampang lusuhnya sudah cukup menjelaskan bahwa sedari tadi keduanya menunggu kendaraan. Saya semakin was-was, asumsi saya sepertinya semakin kuat. Padahal besok senin, kantor menunggu saya.
Semakin bergegas.. Dan... Ternyata salah, asumsi saya gugur. Terminal tidak seramai dugaan saya. Malah terlihat seperti biasa. Saya bersyukur. Saya bahkan tidak perlu menunggu lebih dari setengah jam sampai penumpang penuh (saya memilih mobil penumpang tipe panther seperti biasa, saya tidak pernah bisa berdamai dengan bus untuk perjalanan jauh dengan topografi berbukit dan jalan berkelok-kelok).
Pukul 6 sore, mobil tumpangan saya berangkat, hanya dengan 3 penumpang, saya dan seorang nenek dan cucunya. Saya bisa duduk dengan PW-nya di jok depan. Mobil bergerak menuju gerbang, berhenti sejenak untuk ritual retribusi, bersiap melenggang dengan begitu elegan. Hm, ternyata bapak separuh baya dan perempuan dengan tatapan kosong tadi masih disana. Saya mulai terusik, tertarik menemukan detail yang lain. Kenapa keduanya masih disana? Dengan suasana terminal seperti itu, seharusnya mereka tidak kesulitan menemukan kendaraan yang pantas ditumpangi. Ada yang aneh, hampir semenit memandangi wanita itu, saya sepertinya menyadari sesuatu. Yah, analisa saya berujung pada sebuah kesimpulan, "wanita itu gangguan mental". Sopir mobil itu menyela lamunan saya, seolah tahu saya terusik dengan sketsa hari yang terpampang begitu nyata di depan saya.
"Iyah, kasihan sekali. Sudah seharian bapak dan anak perempuannya yang gila itu menunggu mobil, tidak satupun yang bersedia memberi tumpangan", ujarnya.
"Seharian, pak??", memastikan pendengaran saya.
Berarti benar, keduanya terlihat lusuh, tepatnya kelelahan terpanggang teriknya Makassar yang begitu ganas sedari pagi. Si bapak sopir mengangguk. Sejenak percakapan kami terputus oleh kehadiran penumpang baru. seorang perempuan berkacamata, terlihat dewasa dengan gerak-gerik yang anggun, feminim, berpendidikan.
"Saya kasihan dengan bapak itu. Biarkan saja jok belakang untuk keduanya..", ujarnya kemudian, seolah meminta kesediaan para penumpang. Si nenek berguman agak khawatir tapi tak lama kemudian ia mengiyakan. Si ibu berkacamata juga mengangguk tak masalah. Saya? Apa pantas saya menolak sedang saya menempati jok depan dengan luasanya.
Mobil berhenti tepat di depan keduanya. Muka lesu si bapak setengah tertekuk, tidak percaya apa sopir itu benar-benar mengikhaskan mobilnya untuk tumpangan mereka. Ia memandang anak perempuannya seolah mempertegas kondisi anaknya dalam bahasa mata. Bapak sopir tersenyum. 
"Naiklah. kita tidak ingin ketinggalan sahur di hari pertama Ramadhan, kan??". Bapak itu balik tersenyum, seolah berton-ton bebannya luruh dalam seulas senyum sang sopir. Ia bergegas, sang sopir bahkan membantu si bapak menuntun anak perempuannya.
"Oh, Tuhan.. Mulia benar bapak sopir ini. Saya tidak yakin ada sopir lain seperti dia". Dalam hati saya berdoa, semoga rahmat Allah selalu tercurah untuk bapak ini. Semoga rezekinya dimudahkan oleh Sang Pencipta. Yah, saya menyaksikan ketulusan dengan sangat elegannya hari itu. Sebuah potret indah yang sepertinya semakin sedikit tersedia di fana yang ini.
Wisata hati hari itu ternyata tidak berakhir disana. Ada begitu banyak scene yang membuat lidah saya hanya bisa berucap "Subhanallah..".  Si bapak paruh baya yang begitu telaten mengurusi anak perempuannya yang tidak bisa diam. Betapa sabarnya ia melakukan ini dan itu demi membuat kami para penumpang tidak terganggu oleh mereka. Begitu juga saat mobil singgah isi bensin di Pertamina Pare-pare, si bapak bahkan sengaja singgah untuk membasahi kepala anak perempuannya (saya pernah baca, entah di mana, bahwa membasahi kepala pasien sakit jiwa juga salah satu terapis menekan kumatnya "kegilaan"). Yang lebih mengejutkan lagi ketika mereka sudah sampai di tujuan (sekitar perbatasan Sidrap-Enrekang), saya yakin sekali, bukan cuma saya, pasti si bapak sopir dan penumpang lainnya juga merasakan keterkejutan seperti saya. Melihat rumah tinggal mereka, bisa dibilang keduanya dari keluarga berkecukupan. Rumah tinggi berarsitektur Bugis dengan pagar tinggi di sekelilingnnya lalu seorang anak lelaki, mungkin 10 tahunan bahkan menghambur penuh sayang menjemput dan memanggil ibu dan kakeknya. Sungguh betapa bersahajanya sang bapak. Ia sama sekali tidak memperlihatkan ke-"wah"-an yang ia punya. Subhanallah...

Saya belajar banyak hal.
Mereka orang yang menurut sebagian dari kita tidak berhak mendapat perhatian, orang-orang termarginalkan, mereka yang terseleksi alam karena kerancuan mental (gila secara psikis pun gila secara sosial) bukan berarti tidak bisa menikmati hidup dan memang pantas terpinggirkan. Si ibu berdaster itu bahkan bersenandung dengan merdunya setiap kali MP3 Player memutar lagu "Bukan Bang Toyib"-nya Wali dan "Aishiteru"-nya Zivilia. Menikmati jeda waktu dengan kenikmatannya sendiri, serasa hanya dia dan dunianya. Sepintas, tidak ada bedanya dengan saya yang juga mengikuti irama lagu meski tidak hafal.
Yah, masing-masing dari kita, terkadang menikmati hidup dengan cara yang sama tetapi dengan rasa yang berbeda. Kita hanya perlu menahan sedikit ego pribadi dan berbagi sedikit ruang memaklumi untuk sesama.. 
Mereka berhak hidup!
Lalu kesabaran dan kasih sayang sang ayah pada anak perempuannya, pola hidupnya yang bersahaja, ketulusan sang sopir. Subhanallah... Sungguh beruntung bisa menyaksikan ini dengan mata kepala sendiri. Terima kasih ya Rabb untuk sketsa hari yang Engkau perlihatkan padaku di awal Ramadhan-Mu.


28 komentar:

  1. wah kapan yah saya bisa bertemu dengan sopir itu :)benar2 orang yang baik.

    Inspiring :D
    Keep posting mbak

    ReplyDelete
  2. hmmm...banyak kelompok2 masyarakat yang termarjinalkan oleh sistem yang ada dimasyarakat..mereka yang dengan kebutuhan khusus, lansia, penyandang cacat..harus berjuang sendirian mempertahankan eksistensi ditengah ketimpangan dan diskrimanasi sepihak dan tak beralasan..

    cuma hati nurani dari masing individu..dari kita lah yang bisa sedikit demi sedikit menggerogoti sistem yang salah kaprah itu...

    i like this post :) insya alloh masih banyak ko supir2 yang seperti diceritakan...:)

    ReplyDelete
  3. nice share mbak............

    mpe terharu Q bacanya..........:'(

    ReplyDelete
  4. gud story mbak,..lama ga posting nih? pasti lg sibuk berat ya???
    semoga kita bisa mencontoh perilaku lelaki yg menyediakan tumpangan utk mereka yg terpinggirkan,..and do something not just looking :)

    ReplyDelete
  5. Jarang-jarang nih bisa terhenyak kalo sedang berada di sini, biasanya pikiran selalu beradu argumentasi ketika berada di sini...

    Dari cerita ini, aku cuma bisa menarik kesimpulan kalau lingkungan sekitar kita ternyata tak seganas dengan apa yang kita pikirkan yang terkadang membuat kita harus saling curiga terhadap satu dengan yang lainnya, dan pasti ada sisi-sisi kebaikan yang tersembunyi di sana dan pastinya sisi itu akan nampak ketika kita sendiri mau memetik suatu pelajaran darinya....

    ReplyDelete
  6. sebenarnya mereka semua sama dengan kita..
    yang membedakan hanyalah cara kita memandang mereka..

    ReplyDelete
  7. hmm ... mgkn sprti kta ppatah,"jgn mnilai bku dri smpulny!"
    mmg kita ga' bs mnilai kpribadian ssorg hny dg sbatas pnca indra yg kita puny,..
    oke dehh, masuk !

    ReplyDelete
  8. @ucank: benar, dek. baru kali ni saya bertemu sopir se-santun bapak itu. sungguh beruntungnya. :D

    @bg todi: iyah, bg. ada begitu banyak yg termarginalkan entah dengan alasan apa. yg terkadang tanpa kita sadari, kita pun mengambil andil membuat mereka tersisih. qt terllu sibuk dgn keseharian qt masing2, smpai2 nurani kadang tak bekerja sesuai fungsinya. astagfirullah.. smoga kita sllu saling mengingatkan.

    @ayik: makasih yik.

    ReplyDelete
  9. @mbak ketty: hehheee.. iyah mbak, rada sibuk beberapa waktu ini. belum sempat BW ke tetangga juga. :D
    betul, sya sepakat. semoga kita bisa mencontoh ketulusan si bapak.

    @sam: biasanya pikiran selalu beradu argumentasi ketika berada di sini... wkwkwkkwkwk.. blogq bikin stress yah mas. hihihi. well, tenang..tenang... sense of humanityku masih jalan. :D

    ReplyDelete
  10. @adryan: yah, perbedaan ruang waras membuat kita hampir sllu merasa lebih hebat dari orang lain. padahal tidak sllu.

    @sandy: sya sepakat, san. dont judge the book from the cover. sayangnya qt tidak sllu bisa objektif memandang dunia, kita justru terllu sering terperangkap pada subjektifitas pribadi. saya yakin saya pun terkadang seperti itu. yah, hakikat manusia.. yg sempurna sebagai manusia saat berada dalam ketidaksempurnaannya...

    ReplyDelete
  11. We live in the world where good people do exist ;p

    ReplyDelete
  12. Ternyata didunia ini masih ada orang yang peduli dengan orang yang tak dianggap (bahkan gila) salut dah dengan pak sopir...

    ReplyDelete
  13. oh ya kemarin aku sudah komentar kok hilang ya Kak,,,,ada apaaaa ????? hehehehe

    ReplyDelete
  14. wah senangnya bisa wisata hati
    kalo aku sih wisata imajinasi aja :D

    ReplyDelete
  15. @claude: yuhu, but hard to find them. bersyukurlah sya bisa bertemu mereka. hehhehe

    @sofyan: betul2 kenyataan yg jarang dijumpai, yan.
    hah?!! komennya hilang? diculik spa yan?? hehhe.. kgak tau juga sya.

    @john: mau wisata hati apa imajinasi, kayaknya wisata kulinerlah yg pling mantap. jiaaaahhhahahha..

    ReplyDelete
  16. saiia setuju sama siasat memberi ruang tersebut.. mundur seedikit tuk membaca masalah secara lebih luas lagi :)

    ReplyDelete
  17. bagus untuk renungan cerita diatas tuh ,, :D

    ReplyDelete
  18. saya jadi terharu membaca catatan ini. hiks... hiks... hiks...

    nice posting.:-)

    ReplyDelete
  19. @belajar photoshop: sipp, makasih jejaknya mas.

    @saya beritahu: alhamdulillah klo bisa jdi bahan renungan. :D

    @edi: bah, jangan mewek disini. pulang..pulang.. hush..hush... wkwkwkkwwkkk.. :D

    ReplyDelete
  20. jarang sekali ya yang seperti pak sopir itu.

    btw, itu tulisannya kog ngga pake paragraf ya.

    ReplyDelete
  21. wuakakakkakkkk... ngakak dulu aaaaahhh... comment'a entaaaarrrrrr........ yuuuhuuuuuuuu.. im comiiiiiiinnggg... ^_^

    ReplyDelete
  22. ikutan teh bonit, ketawa duluu.. hahahahahahahahaha.. komennya ntar nunggu postingan baru..

    hidup komentar klasik!! akhirnya bisa cuap2 di mari juga gw Mir..

    ReplyDelete
  23. xixixiiii... udh mo sore dhe'.. pulang yuuukkkkk... teteh lagi tggu hujan neh,,, ^^

    ReplyDelete
  24. Bertemu atau melihat seseorang yang mencomot perhatian. Saat Saya pulang dari Bekasi Saya juga pernah mengalami hal yang Sama. Saya melihat seorang pria mengerikan dengan anak perempuannya yang masih kecil mungil, memakai rok rumbai-rumbai lucu, lari ke sana kemari kayak orang kecopetan. beberapa saat kemudian istrinya datang, wah ternyata istrinya cantik sekali.

    ReplyDelete
  25. @yus: pake koq, yis. tapi kasat mata. hehhehe..

    @bonit+dhenok: jiaaaaaaaaaaaaaaahhhh, kompak pula neh makhluk klasik ribut disini. pulang!!! pulang!! wakakkakakkkk..

    @k[A]z: jgn2 ketularan ma teh bonit ma yuk dhe, nih? wkwkkwkwkk

    @tukang pos: bisa dibilang santunnya mengalihkan duniaku. hehehhe..

    ReplyDelete
  26. Terkadang, "dari orang-orang kecil" seperti bapak sopir itu kita belajar akan makna hidup...
    Jadi, mari memperbanyak dan mempererat hubungan dengan "orang-orang kecil" seperti mereka.

    Karena,bersama mereka, kita akan terjaga untuk tidak menengok terlalu tinggi ke atas..
    Karena, bersama mereka, kita akan terjaga untuk selalu mengucap rasa syukur akan apa yg dimiliki saat ini..

    Keep posting mba Acci.

    Note: Terminal Daya ya? Memang itu terminal, sudah perlu dibenahi secara total.
    makanya judul Tugas Akhir sy Re-desain Terminal Daya.
    Ntar kalo jadi, rencananya dibawa ke Pemda untuk diproposalkan.
    Doakan ya.. ^^

    ReplyDelete
  27. Permisi kak, asli Sulsel yah?? Kab. mana kak?? Perkenalkan saya asli mks jg. Dr kab.Gowa.

    Betul2 tertarik saya sama tulisan2 kk yang kayak diatas. Mengisnpirasi skali kak.

    Salam kenal yah kak. Sweet greeting from me, Anthy. ^_^

    ReplyDelete

Kawan, silahkan tinggalkan jejak,,,

 

Friend List

Flickr Images