Demi Masa

Yang paling dekat adalah kematian. Yang paling jauh adalah masa lalu. 
Yang paling besar adalah hawa nafsu. Yang paling berat adalah memegang amanah. 
Yang paling ringan adalah meninggalkan sholat. 
Dan yang paling tajam adalah lisan manusia.
 -Imam Al Ghazali-"


Assalamu alaikum... 2016. #telatkebangetan

Apa kabar tahun barunya? Kemarin habis berapa kembang apinya? Seberapa berasap langitmu? Maaf, sarkastik. :)

Benar kata Edgar Quinet, "Waktu adalah hakim paling adil dan paling keras". Sebab esensinya selalu (pasti) "bergerak maju" tanpa tedeng aling-aling. Benar bahwa ia adalah manivest yang kasat mata tapi pasti, sekalipun parameternya tidak. Terasa lama atau singkat tergantung kondisi, lambat bagi mereka yang menunggu, singkat bagi mereka yang sedang dipenuhi rasa takut, selalu lama bagi yang berduka, dan selalu singkat bagi mereka yang sedang berbahagia.

Jeda kali ini sepertinya membuat saya sedikit melankoli, terlebih beberapa waktu belakangan saya sering sekali bertemu dengan (sebut saja) si fulanah. Seorang perempuan muda, sulung dari tiga bersaudara yang hidup yatim piatu bersama kedua adik laki-lakinya. Pada november kemarin, ayahnya berpulang ke rahmatullah, menyusul ibundanya yang telah lebih dahulu di panggil Sang Pencipta pada bulan februari tahun sebelumnya. Di setiap kali bertemu, kepala ini tidak pernah mau kompromi dengan ingatan yang (lagi-lagi) mengalir begitu saja. Duh, baper. Bukan tanpa alasan, saya kenal betul kedua orang tuanya. Apalagi sang ibu, beliau sosok sederhana yang ramah dan sangat bermasyarakat. Setiap kali ada hajatan, entah besar-besaran atau kecil-kecilan, beliau selalu menjadi orang pertama yang menyumbangkan tenaga, berada di dapur. Arghhh.. semoga beliau senantiasa diberi kelapangan di alam sana.

Yang luar biasa dari perempuan muda ini, di dua kali badai dalam hidupnya ia selalu terlihat tegar. Pikiran pertama saya, kedua orangtuanya pastilah juga hebat dalam mendidik mereka. Kenapa? Seperti tulisan saya di postingan sebelumnya:
Saat seorang anak lahir, dia benar-benar kanvas yang putih bersih. Siapa yang akan mewarnainya tentu saja orang-orang terdekatnya (orang tua). Yang diwariskan ayah dan ibu kepada anak, hanyalah kemiripan-kemiripan lahiriah, jasad. Roh yang ditiupkan adalah esensi lain yang tidak ada sangkut-paut apapun dengan esensi jasad. Roh ini tidak bisa memilih dia akan ditiupkan ke jasad yang mana, seorang anak tidak pernah bisa memilih siapa orang tuanya. Lalu si anak bertumbuh dan mulai faham tentang dunia, mulai mengerti keinginan-keinginan, tahu membedakan yang baik dan buruk. Bukankah proses ini memberikan peluang bagi seorang anak untuk menata denah-denah abstrak di kepalanya.
Singkatnya, tumbuh kembang seorang anak, akan jadi pribadi seperti apa dia kelak, sangat tergantung pada peran orang tua. Sayangnya tidak serta-merta semua orang tua bisa menjalani peran sebagai orang tua yang ideal. Harus ada keinginan-keinginan untuk bisa, keinginan untuk tahu dan mencari tahu bagaimana flatform ideal yang sebenarnya. Terlebih di jaman teknologi smartphone sangat mudah diperoleh seperti saat ini, dimana informasi dan pengaruh mengepung dari segala penjuru. Waspada sebelum terlambat, sebab prilaku dan mental generasi kita taruhannya.

Maka saya sangat mengapresiasi ketika salah seorang kawan di grup WhatsApp berbagi kekhawatiran yang sama. Positifnya, ia berbagi buku-buku parenting sebagai solusinya. Salah satu yang recomended adalah buku Kiki Barkiah "5 Guru Kecilku". Katanya memang bukan buku-buku teori parenting tapi lebih ke bagaimana mengaplikasikan teori-teori parenting dengan penuh kesabaran dan keyakinan. Buku ini tergolong ringan karena mengangkat kisah-kisah seputar pengasuhan anak, termasuk solusi dari permasalahan umum dalam pengasuhan anak. Disisipi dengan hikmah dan teladan yang tentunya bisa jadi angin segar bagi orang tua seputar pengasuhan anak usia dini dan remaja. Saya dan beberapa kawan grup yang masih single juga tertarik memilikinya. Bukan apanya, bukankah harus mau tahu dulu baru bisa kan? Syukur bisa tahu apalagi bisa jadi orangtua ideal nantinya. Ekekeke..

5 Guru Kecilku oleh Kiki Barkiah
Kebetulan kawan saya ini sudah jadi reseller untuk buku-buku khusus parenting cetakan Pro U Medai dan Zaman, termasuk bacaan anak-anak dari Perisai Quran Qids. Bila tertarik dan ingin info lebih lengkap silahkan di kolom komentar atau langsung menghubungi beliau di Nomor Whatsapp : 0852 5544 2010. Berita baiknya untuk pemesanan wilayah Makassar bisa diantarkan. Beberapa buku dan judul buku parenting lainnya :




Thats all..
Have a nice weekend dear you..


16 komentar:

  1. banyak orang tua jaman dulu yang membesarkan anak2 hebat tapi mereka gak pke baca buku parenting ya? heheee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin karena pengaruh tidak sedahsyat sekarang. Yg apapun dri seantero dunia bisa diakses dri layar kecil sebuah smartphone. Yg paling keliatan anak2 sekolah. Klo dulu kena marah guru,trus melapor ke ortu mesti dah kena marah 2x lipat dri ortu. Lah sekarang, anak lapor k ortu klo kena marah sma guru, besoknya sang guru pasti di lapor ke komisi perlindungan anak. Ckckck

      Delete
  2. HAI 2016 ... kayaknya udah pada beranak, nih .. *eh. cuma gue yang belum! hiks ... udah pada nyeritain tentang si Kecil mereka di blog, tambah satu lagu label blog mereka tentang parenting, dsb ... dsb. hiks *lagi ... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tenang sak, lu ada temennya. Ane jg blum beranak koq. Lol.
      Cuma latah bahas parenting aja.

      Kmarin2 pas baru balik khusuk ngeblog, jenguk blog kawan2 lama, ane jg kyak begitu. Ternyata bnyak kawan yg hiatus gegara beranak. Kite kapaaaann?? Wkwkwkkk..

      Delete
    2. au ah gelap ... kayaknya kita jodoh, deh! *hish, apa coba?

      Delete
    3. Hahaaa... yg jodoh tuw hiatusnya kalee

      Delete
  3. Ada reseller mandiri yah, bisa mengantar pesanan juga. Baru tahu. TFS ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. kawan saya ini baru coba2 usaha dagang buku. maklum baru, anggap saja ngantar pesanan itu lagi promo, bun. :))

      Delete
  4. Quotenya betul sekali.. buku parentingnya menarik tuh kayaknya.. kalo aku pernah jg baca bukunya okina fitriani, bagus juga, isinya banyak sharing ibu2 yg pernah mengaplikasikan teori parentingnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru kali ini pengen nyoba baca buku parenting, suka tidak suka biasanya sya cocok2an sama gya bahasa dan penyampaian penulis. Tp untuk yg satu ini kyaknya niatnya prefer ke hikmah lah yah. :D

      Delete
  5. Apa cuma daku ibu-ibu yang jarang banget baca buku parenting, wkwkwkwk..
    Lebih suka kasus per kasus, sih. Kalo nemu kasus kayak gini, nyelesaiinnya gimana. Emang sih istilahnya jump first, think later :D
    Etapi kalo dibungkus dalam cerita, mungkin bisa suka. Makasih sharingnya, Ci ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Belum punya dan baca bukunya sih, masih proses po, jadinya belum bisa review secara objektif..eh subjektif..maklum review sya selalu seenaknya dewe. Apalagi sya suka main kompromi2an sma gaya bertutur penulis. Hahaha..

      Delete
  6. Pantasan dirimu melankolis CI.. saya juga akan ikutan "baper" kalau ketemu kisah begitu di kehidupan nyata...

    *Menghindari bahas parenting :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wokeh.. *nya sya keep. :D

      Jdi saksi hidup, wajarlah baper sizt.

      Delete
  7. Ah cilong promosiin buku termasuk porno gak yah wkwkwkw, concern masalah parenting kayaknya bentar lagi jadi parent nih :P

    ReplyDelete
    Replies
    1. Biasanya klo komen cak ini anonymousnya ke-detect kg yudi ananda lah. Hahahah..

      Itu ekspektasi yg pengen disegerakan kg. Syangnya couple buat jdi parent nya masih entah dimanaaa.. Hahahah. Luw apa kabar sma si kesayangan. Ngiri dah sama yg suka mendadak ghostwritter di lapak kesayangan. Hohohoo

      Delete

Kawan, silahkan tinggalkan jejak,,,

 

Friend List

Flickr Images