Toraja Utara, on vocation.

Salah satu kesyukuran saya melanjutkan pendidikan di jatinangor adalah fakta memiliki teman senusantara, di hampir semua kabupaten/kota se-Indonesia (kecuali Yogyakarta). Kenapa? Sebab begitu menginjakkan kaki di kab/kota yang lain, jadi tetamu, selalu ada kawan yang bersedia menyambut dan menjadi guide dadakan. Seperti kali ini, ada Arena Rante Maliku yang siap direpoti demi kami berdua (putri 17 sulsel) yang nyasar ke tempatnya, Toraja Utara.

Sudah jadi rahasia umum, Toraja dan Toraja utara didiami oleh mayoritas non-muslim. Subhanallahnya, disini mereka hidup berdampingan dengan baik. Sekalipun beda keyakinan, tapi adat menjadi penyatu yang baik. Kalau biasanya sebelum main ke Torut, bekal makanan adalah hal wajib yang harus disiapkan sebelum berangkat, maka kali ini, berkat Aren - Lurah Tagari Tallung Lipu yang juga muslim, kami jadi leluasa menemukan tempat shalat dan tempat makan halal yang tergolong minim di Toraja Utara. Alhamdulillah yaaa.. Kelar shalat dan makan, destinasi pertama kami adalah Ke'te Kesu, salah satu objek wisata andalan yang menjadi ikon Toraja utara.

Ke'te Kesu menyuguhkan deretan rumah adat yang dikenal dengan sebutan "Tongkonan". Terdapat 6 tongkon dan 12 lumbung padi yang dibangun berhadap-hadapan. Sebagai cagar budaya, Ke'te Kesu selalu menjadi pusat upacara kematian/ pemakaman adat yang dikenal dengan sebutan "Rambu Solo". Saya pribadi belum pernah menyaksikan langsung prosesi ini. Yang pasti selalu butuh biaya besar untuk bisa melaksanakan event besar ini.

Sayangnya, saat mampir ternyata tongkonan sedang di renov.
(With uci n krucil)
Saya sempat roaming dengan sesama pengunjung yang kebetulan penduduk asli Toraja Utara, kebetulan lagi bahasa Enrekang di tempat saya hampir sama dengan bahasa Toraja. Dari si bapak, saya diberitahu kalau usia Tongkon itu berkisar 400 tahun. Sekalipun sudah tidak ditinggali, tapi deretan tongkonan tetap terawat dengan baik. Oh iya, di Toraja terdapat semacam klan atau rumpun keluarga. Khusus cagar budaya Ke'te kesu ini, dirawat secara turun-temurun oleh keturunan Puang Ri Kesu.

Tanduk kerbau menjadi penghias tongkon
Di bagian depan Tongkon, biasanya ditemukan deretan tanduk kerbau yang disusun rapi bertumpuk ke atas. Tanduk tersebut berasal dari sekian banyak kerbau yang dipotong saat Rambu Solo' atau prosesi kematian. Jumlah tanduk ini pula yang biasanya menjadi tolak ukur seberapa kaya si empunya hajatan. Kata si Pak lurah, adat disini mengharuskan potong kerbau, bukan sapi. Padahal kalau bicara lebih enak mana daging sapi atau kerbau, jawabannya sudah tentu sapi. Belum lagi harga kerbau jauh lebih mahal dari sapi. Inilah ysng menjadi alasan kenapa banyak mayat yang tidak langsung diupacarakan tetapi disimpan sekian waktu, hingga dana terkumpul.


Masuk lebih ke dalam, di kiri kanan jalan akan dijumpai toko-toko souvenir khas toraja. Kebanyakan hiasan dari ukiran dan pahatan khas toraja, tas/baju/kain khas toraja, dll. Lebih ke dalam lagi, terdapat peti-peti mayat yang oleh masyarakat Toraja disebut erong, ada yang berisi mayat utuh pun tulang belulang. Selain itu, biasanya rumah mayat ataupun di erong gantung dipajang boneka si mayat yang disebut "tau-tau". Beberapa tau-tau yang bernilai tinggi bahkan dikunci dalam jeruji besi untuk menghindari pencurian.

Konon katanya, lingkaran coklat di belakang saya itu berisi ratusan tulang belulang.
With my beloved partner in crime and her son yang lucunya diberi nama oleh saya. ^^
Di belakang kami ini sebenarnya salah satu erong tua yang berisi belulang.
Hanya saja model terlalu gifo untuk melewatkan setiap sudut.
Berhubung habis hujan dan kondisi tangga menuju tebing mayat gantung sangat licin, bagian atas tidak sempat dieksplor lebih jauh. Dari Ke'te Kesu, kami beranjak ke Londa. Biasanya di bagian depan sebelum masuk gerbang kecil, pengunjung akan disambut oleh seekor kerbau yang hanya ada di toraja yang dikenal dengan sebutan "tedong bonga". Tapi kali ini tidak ada.

With Lurah Tagari Tallung Lipu (paling kanan) and uchi's kru.
Londa.
Peti mayat atau erong biasanya diselip di lubang-lubang pada tebing, digantung atau dimasukkan ke gua-gua.
Objek wisata di Toraja memang tidak jauh-jauh dari kuburan atau peti mayat, dengan prosesi adat pemakaman mayat sebagai faktor penarik wisatawan terbesar.. Di londa, pengunjung akan diajak menyusuri lorong-lorong gua, bertemu dengan (lagi-lagi) peti mayat dan mitos dibelakangnya. Cukup menyewa pembawa lentera, pengunjung akan puas berpelesir.
Beberapa peti atau erong dalam gua.
Salah satu spot yang kata guidenya selalu jadi tempat andalan berfoto.
Oye, uchi n' kru tidak masuk. Ane doang sama yang empunya kampung. #eh
Last shoot before good bye.
Bertemu kawan lama selalu sukses membumikan kenangan-kenangan. Siapa sangka, saya diberi kesempatan bertemu kawan ngampus di nangor yang belum pernah bersua sejak kelulusan 6 tahun lalu, uchi. Padahal satu kontingen, cuma beda kabupaten, terpisah utara dan selatan. Maulid yang gandengan dengan natal, ditambah weekend defenitif di hari sabtu dan minggu sepertinya jadi kesempatan besar planning kemana-mana. Pada awalnya saya ada planning cuus ke makassar, sekedar buang suntuk sekalian jenguk gramed. Setahunan buku-buku di rak belum nambah kawan. Tapi kabar hujan dan macet di kota metro, sepertinya cukup sukses memekarkan malas kemana-mana. Fix, batal.

Batal pergi ternyata berkah, bisa meet up dengan dorang dua sa pu kawan lama, kawan senasib sepenanggungan. Dan lalu... cerita-cerita jaman kampu, sedu-sedannya pendidikan, kisah-kisah deviasi, kisah-kisah keluar kontingen, semuanya mengalir kembali. Waktu yang tepat menertawai kebodohan-kebodohan jaman dulu. Miss you all..

Note:
Maaf foto-foto yang di upload kurang mewakili/ mengeksplor Ke'te Kesu dan Londa, maklum saya prefer catch the moment dengan kawan ketimbang memperkenalkan kedua tempat itu. #eh. Dan thanks a lot buat Lurah Tagari Tallung Lipu atas jamuan dan servisnya. Sukses terus.



21 komentar:

  1. indah banget :')
    someday, ane akan menginjakan kaki di tanah toraja :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sepakat sekali.
      Pemandangan disana asri beud, sawah-sawah nan hijau berderet rapi.

      mugi2 dikasi kesempatan mampir disana, masbro.

      Delete
    2. Saya juga ingin sekali mampir ke Toraja. Gegara bikin posting blog untuk kontes lomba tempat wisata di Sulsel beberapa minggu lalu, saya jadi ngiler ingin ke Toraja biarpun cuma dua hari saja.

      Eh ya, biarpun tongkonannya sepertinya sedang diperbaiki, tongkonannya tidak nampak seperti sedang direnovasi. Tangga-tangga itu buat saya nampak serasi sebagai bagian dari rumahnya :D

      Delete
    3. pas renovasi saja masih keliatan serasi, apalagi pas kelar, dijamin ukiran2 khasnya itu makin bikin ciamik.

      Delete
  2. Wow amazing adventure sahabat
    So great
    And i like it

    ReplyDelete
  3. su su subhanalloh, ini ni destinasi wisata yang masih dalam awan mimpi, aku tu penasaran banget ama upacara rambu solok di sana, penasaran sekaligus ngeri ngeri sedap pingin liat prosesi dan kubur batunya,,...di sana itu ada tradisi menghidupkan mayat apa ya? pernah denger

    ReplyDelete
    Replies
    1. yg unik-unik selalu bikin tertarik kan sizt. :)
      sebenarnya bukan tradisi menghidupkan mayat tapi prosesi "mang nene" atau penggantian pakaian si mayat. kalo di yutub2 kadang ada yg share video mayat berjalan tp kata kawan syaa, yg begitu2 dulu, dulu sekali, katanya mmg ada. tapi nda sembarang orang bisa melakukannya, hanya tetua adat tertentu. klo sekarang mah, sudah tidak ada.

      Delete
  4. aaiii.. ngeri serem makamnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. malah ada loh spot yg keliatan biasa tapi berdiri dekat2 situ bikin merinding. kirain cuma saya yang ngerasain, tau2nya kawan ane juga ngerasain. #eh

      Delete
  5. Replies
    1. Mang sapa nih? Hahahahh
      Salam kenal masbro

      Delete
  6. dulu sa ke Toraja taun 2008-an, dan keknya nd banyak berubah. begtu2ji di. kalau temanku yg dari luar komennya sekarang bede jalannya agak rusak yah?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya begitu2ji. Klo di ke'te kesu perubahan yg paling keliatan paling jalan diantara tongkonan yg berhadapan lngsung sma lumbung padi. Dlu cuma sedikit yg di aspal, sekarang pake batako smuami. Jalan mungkin klo lewat palopo agak rusak tp klo dr enrekang begitu2ji.

      Delete
  7. bah, toraja.....
    itu yang ada tradisi manene bukan sih yaa?
    daerah keren itulah.... someday gue bakalan kesana :))

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya betul masbroth, yg semua wisatanya tidak jauh2 dari kuburan batu dan peti mayat. :)) meski begitu, adat istiadat yg unik selalu jadi penarik yg kuat.

      Delete
  8. Mmm.. sudah baca kisah 2 orang ke toraja, kayak ingin mi juga ke sana.. hahah

    ReplyDelete
    Replies
    1. biasa memang klo baca2n ato dengar pengalaman org2 sellau bikin tertarik. apalagi klo review makanan.. ampuun saya.. pasti langsung ngileerr..
      #eh
      #ndanyambungka
      #maklum balas komen ini pas lagi lapar2nya.
      hahahhah

      Delete
  9. ke Toraja....will be my dream come true, semoga suatu saat nanti bisa menyapa bumi Toraja.

    ReplyDelete

Kawan, silahkan tinggalkan jejak,,,

 

Friend List

Flickr Images