Cliff Muntu, Sepenggal Kenangan


Ini tentang pagi, saat langkah menyatu.. Parade… Pagi selalu sama di 2 tahun pertama, tak lebih dari pergulatan menopang letih. Hanya saja, ada yang beda hari ini dan tak ada yang suka. Merah Putih tidak menyentuh puncak saat Indonesia Raya tamat. Setengah tiang. “Degg!! Apa ini?”. Hanya sedetik, lalu merah putih seakan dikejar binatang menakutkan dan sudah bertengger megah di puncak tiang emas. Upacara senin selesai dalam cekam. Lalu 3500 jiwa itu bubar. Saya pun sama, kuliah menunggu.
Koridor masih penuh, headline hari ini “Merah Putih Setengan Tiang, Selesai Menza, Anggota Pasukan Inti Koreksi Berjamaah”. Sudah resiko sekolah kedinasan, pembinaan fisik mesti ada. Saya memilih menunggu di blok. Ternyata kelas sudah rame,, maklum kelas gabungan dan seperti biasa, langsung ke posisi kaplingan kuliah, sudut tengah baris kedua. Tepat di belakang mengekor kontingen Sulut, mengisi ful saf ketiga. Masih seperti biasa juga, heboh.
“Cliff, ngana tega skali. Masa’ nyanda simpan kita pe foto!” Si juju yang sodara kabupatennya Cliff mulai merajuk. Lalu dengan sigap menukar foto dari dompetnya dan dompet cliff. Mungkin rada aneh, tapi begitulah disini, saudara kabupaten pun saudara kontingen benar-benar bukan orang lain. Setiap dari mereka adalah pelindung bagi yang lain. Yang tidak memahaminya pasti akan tercengang dan menganggap ada hubungan tanda kutip di belakang semua ini. Tapi sayang, anggapan ini salah sama sekali. Saudara, hanya itu.
“Cliff, ngana bercahaya skali ne hari. Ngana carita pakita, sapa nga pe maitua. Deng sokabs juga, nyanda boleh ba tipu!”
“Iyo, jo neh!”, Jilly membenarkan.
“Ah, nyanda kote. Kita nya’ pernah ba tipu pangoni. Kita sayang ta pe putri-putri”, akhirnya buka mulut dia.
“Bah, STPDN Sulut ka…” selorohku.
“Aci, nga mo ganggu Sulut ka? Nyanda ada ngape daeng disini. wakakakkakakak”, lanjut Juju.
“Epenka ju, tra takut kita”, lanjutku sembari bercanda.
Hampir setiap hari berlaku seperti itu. Aerobik pagi, sarapan, upacara atau apel pagi, kuliah, lari siang, makan siang, kuliah lagi, ekskul, makan malam, wajib belajar, apel malam, jaga serambi lalu pagi lagi. Sungguh melelahkan. Di tempat ini semua kontingen sangat kompak. Semacam persatuan tidak sengaja yang masing-masing punya solidaritas tingkat tinggi. Ada juga persatuan antar pulau, seperti Celebes untuk Sulawesi, Borneo untuk Kalimantan, Sumbagut (Sumatera Bagian Utara), Sumbagsel (Sumatera Bagian Selatan), Subejo (Sunda, Betawi, Jowo), Nustra (Nusa Tenggara dan Bali), Molukas (Maluku dan Malut), Papua. Wih, mantaf mengenal semua suku-suku itu.
Pagi di hari ini cepat berlalu, rasa-rasanya jam makan siang datang cepat sekali. Yap, sedikit steling (istilah kampus untuk gerak cepat) karena kuliah mpe siang dan belum lari siang. Menza menunggu, setia bersama telur triplek (sebutan dadar telur yang lebih banyak tepung daripada telurnya), sandal jepit (cornet daging yang modelnya macam sandal jepit, ada lagi yang bilang “serong kiri-serong kanan” gara-gara modelnya yang mencong kiri-kanan mirip posisi persiapan push up), lengkap dengan sayur bening (ful terong dan tauge). Ckckckkckck, oh kepala, tidak bersyukurnya dirimu.
Bel makan berbunyi dan upacara makan di mulai, gerbang utamapun ditutup. Artinya, giliran makanmu tertunda. Dan jika kau praja tingkat satu yang telat, maka habislah. Alamat jadi bulan-bulanan senior. Doktrinnya, Praja Tingkat I alias MUDA tidak boleh telat. Wajib lengkap sebelum senior lengkap, dan baru boleh bubar setelah senior bubar. Dan aturan di atas aturannya adalah junior wajib menunggu dalam keadaan rapi, diam dalam posisi siap. Ckckckckkckck, rasanya tak percaya perempuan ini bisa melewati 4 tahun penuh aturan itu.
Bel berbunyi pertanda makan siang beres. Gerbang utama Menza buka, Fungsionaris out setelah penghormatan ke Garuda si penunggu Menza. Barisan Pataka sudah rapi di gerbang depan, seperti biasa jatah lebih lari siang untuk unit “Pembawa Tanda Kehormatan” si Ekskul bergengsi di kampus. Satu level dengan Drumband Gita Abdi Praja. Terlihat jelas kelelahan. Nampak Cliff juga terengah-engah di baris kedua. Wajar saja, habis kuliah gabungan dan dia sudah berbaris disana lengkap dengan pakaian dinas lapangan (PDL), berarti steling sepersekian detik untuk ganti pakaian di barak yang tempatnya nun jauh di atas sana.
Ritual berikutnya pengecekan, semua sudah berbaris rapi di DP (Daerah Persiapan) masing-masing. Polisi Praja (Polpra), Drumband, Pasukan Inti (Pasti), Komando, Combat, Dispen, BKP, Humas, semuanya. Wajib lengkap di “sejam tengah hari”. Ini hari Senin, dan entah setiap Jumat dan hari ini pelataran Menza akan sangat panas. Seolah-olah bereinkarnasi bak oven-oven pemanggang kanibal. Kanibal meminta sajen kulit ari dari telapak tangan plus desis meringis yang diusahakan sekuat tenaga tidak terdengar dan disembunyikan mimik. Selalu..
Baru push up hitungan ke empat tapi gerbang Menza sudah ribut lagi. Yap, PATAKA beres makan, dan menyesuaikan pengecekan dalam sekejap. Masih sempat menangkap bayangan Cliff yang berlari dari satu DP ke DP, memastikan tidak ada yang terlewat dari pengecekan Drumband, PATAKA, PASTI. Masih sempat berguman “Sungguh kuat dia”, sebelum perempuan ini tenggelam dalam hitungan push up yang entah kenapa tidak pernah mengenal amin. Lalu kembali bergerilya dengan peluh, lagi dan lagi, plus mimik yang dikuat-kuatkan menahan pedihnya telapak tangan yang melepuh. Mencoba membangun stamina dengan bayangan bed empuk di barak, walau pada kenyataannya tidak ada tidur siang disini. Dan pastinya tidak bisa usaha tidur siang sembunyi-sembunyi sebab jadwal kuliah menunggu. Rasanya nafas benar-benar sudah meminta rehat. Di batas sesak, beruntunglah ritual akhirnya usai. Pengecekan sudah wassalam untuk hari ini. Alhamdulillah…
Ritual kuliah siang adalah ritual terberat. Lelah sehabis pengecekan adalah belaian paling tulus mengajak terlelap. Walhasil, ceramah dosen bak dongeng sebelum tidur. Kesadaran benar-benar timbul tenggelam. Seribu kali mencoba melek, seakan-akan beban di pelupuk mata bertambah sepuluh ribu kali lebih berat. Jadilah perempuan ini mati suri di kuliah siang dan terbangun dengan asupan energi “Kekuatan 55” (istilah kampus dan istilah militer untuk power full^^).
Jam-jam sehabis kuliah siang, adalah detik ter-ramai di kampus. Biasanya semua ekskul aktif berlatih. PATAKA dengan Lari 1 Kesatriaan (berkali-kali) yang artinya mengitari seluruh kompleks Kesatriaan STPDN yang luasnya naudzubillah, belum ditambah Lari 1 Parade (berkali-kali) yang kelilingnya hampir sekilo. Lalu konvoi Drumband dari stadion belakang kampus, mengitari parade hingga depan Balairung Rudini, paling seru Latihan Paralayang, Capoera, Silat, Tae Kwondo yang memenuhi Parade, Latihan Voly di Parkir Timur, Basket di belakang barak, Futsall di depan Barak Gorontalo, Tennis Lapangan dekat koperasi, Lari Satmen (Polpra dan Combat), Komando, lalu dinas-dinas dan biro (Dinas Pendidikan, BKP, Protokol, Humas). Tapi yang paling menyenangkan tak lain dan tak bukan adalah ekskul teater, paling bersahabat dan easy going. Makanya aku gabung, hanya saja tidak ikut pengukuhan, jadinya dak dianggap anggota. Hiekzz… (^_^). Lalu petang. Waktu yang selalu serasa tak pernah berlaku mengikuti jarum jam. Selalu berlalu sangat singkat, Makan malam, wajib belajar (kecuali malam Selasa dan Jumat : Kerohanian). Benar-benar hari yang penuh warna, aku suka. Setiap detik penuh cerita yang takkan terlupa.
Mata ini masih sulit tidur, insomnia akut, seperti biasa. Seharian bergerilya bersama peluh ternyata bukan alasan lelap bisa tulus menemani. Saya gelisah. Berkali-kali naik-turun dari bed tingkat (bak di panti asuhan) tidak mengobati gelisah. Memutuskan ke aquarium (Ruang Belajar di Barak), mungkin harus menelpon orang rumah. Aquarium memang lokasi paling aman untuk memakai benda haram di kampus. Yap, Handphone adalah barang haram disini. Ketahuan = pengurangan nilai, jadi TBO (Tukang Bantu Operasional), bisa dibayangkan, jadi kuli kasarlah. Beberapa menyebutkan TBO = Tukang Bikin Onar, nama bekennya KOPASUS, istilah praja untuk Korps Praja Berkasus. TBO berarti cabut pesiar dan wajib laporan per jam. Bisa dibanyangkan, waktu bebas di hari Minggu yang cuma enam jam harus dihabiskan dengan laporan perjam ke perwira piket di pengasuhan. Ckckckkk, whats a hell! Damn it!. Tapi bukan itu intinya, ada sanksi lebih berat saat ketahuan menggunakan HP. Mungkin kau tidak akan percaya. Yah, menghancurkan HP dengan tanganmu sendiri di hadapan pengasuh yang akan memastikan HP benar-benar sudah tidak bisa digunakan.
Lima belas menit, saya berhasil menghubungi rumah nun jauh di Sulawesi, saat teman-teman ribut kalau banyak pengasuh berkeliaran. Katanya ada “kejadian” di barak putra, sebaiknya amankan semua barang “haram” sebelum sidak personil dan sidak barang dilakukan. Dengan hati-hati saya menyimpan ulang “barang haram” di tempat persembunyiannya dan kembali ke bed. Dan benar saja, sedetik kemudian barak ribut. Lampu petak yang wajib padam sejak pukul 10.00 teng, menyala hampir bersamaan. Lalu semua hening “Cliff Muntu telah berpulang”…. Semua beku, hanya isak.
“Edis, kita pe sokab….” tangis Juju pecah. Perempuan ini tersedu.. Semua….

 

Cliff Muntu, 3 tahun tepat 5 bulan kepergianmu, cerita hari itu masih serasa nyata. Saya, Kontingen Sulut, Celebes, Angkatan XVII, Kami tak pernah melupakanmu… 2 April 2007 bukan akhir segalanya, tapi awal dari setiap mimpi di hati sahabat-sahabatmu. Tetap tertanam di benak sahabat dan saudara-saudarimu. Yakinlah engkau tetap hidup di hati Anak-anak Manglayang XVII. Siapa sangka lagu “Layu Sebelum Berkembang” pilihanmu untuk Drumband Gita Abdi XVII akan selalu mengalun lembut dalam raga kami. Selalu terbesit penghormatan besar untukmu, kau hidup meski dalam raga lagu. Seperti kenangan yang hidup dalam “Semua Tentang Kita-Peterpan”. Lagu yang tidak akan terlupa, lagu Menza terakhirmu hari itu, mendengarnya semua akan mengingat satu padamu. Penghormatan besar untukmu, kawan….

7 komentar:

  1. sedih ceritanya , smpai air mata bercucuran . apa wanita jga di siksa ? aku ingin sekali msuk IPDN .

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah, selamat atas niatnya. :p
      mungkin sya luruskan dulu. itu bukan siksa, kecuali klo secara pribadi, mau menganggap itu siksaan. Yg ada pembinaan fisik. namanya sekolah kedinasan, bullshit lah klo tdk ada pembinaan fisik. push up, sit up itu wajib. saat tdk taat aturan pun, pengasuh akn memberikan sangsi itu, lagi2 push up, lagi2 sit up, lari sekian kali keliling lapangan, dll.

      cerita di atas berkisar taon 2005-2009. kta adek tingkat sya, skg kampus dah beda. aturan dah mendingan, melanggar aturan hukumannya banyakan pengurangan nilai. ponsel dah boleh plus brg elektronik lainnya.

      saran sya, klo mmg mantab mo masuk ipdn, kenapa juga mesti galau cuma gara2 baca postingan sya ini? :p anggap sja semua tantangan, toh setiap manusia dan masa itu bergerak, tidak ada yg bisa menjamin pola pembelajaran yg sya terima saat ngampus di nangor masih sama ato sudah berubah. so, mantabkan hatilah. :p

      Delete
  2. saya hari ini benar kangen dia......
    Tdk tau kenapa???
    Stelah googling saya dapat blog ini.
    Membaca sungguh membuat mataku berkaca.....
    Indahx Kesatriaan pernah kita nikmati bersama,
    Perihx lembah manglayang telah kita lewati bersama....
    Akulah yang paing tau tentang dirimu sodara....
    Kamu juga yang paling tau tentang diriku di lembaga ini.....
    Masu ingatkah engkau dengan janji kita di tangga 1000???????
    Ku ingin wjudkan itu bersam dirimu agar engkau tau bahwa kita selalu saling mendukung....
    POLPRA , PATAKA, GAP....

    Aku rindu......
    Aku rindu kamu saudara.......

    ReplyDelete
    Replies
    1. Baru sempat menjenguk blog setelah sekian lama dan nemu komen ini. pastilah ini kawan baiknya cliff, post nya sya hanya kulit2 tentang cliff tp yah.. cliff adalah 17. cliff adalah kita.. smoga damai untuknya.

      Delete
  3. jullia sanger21/11/2014, 23:49

    Acci................ kaks elias.................

    ReplyDelete
    Replies
    1. juju, itu kaks elias pu tulisan?

      Delete
  4. I Love Your Website, I Would Appreciate It For A Good Read This!!!

    ReplyDelete

Kawan, silahkan tinggalkan jejak,,,

 

Friend List

Flickr Images