Soe Hok Gie : Si Molotov Grafis

"Engkau tahu siapa saya? Saya Musso. Engkau baru kemarin jadi prajurit dan berani meminta supaya saya menyerah pada engkau. Lebih baik meninggal dari pada menyerah, walaupun bagaimana saya tetap merah putih." Karena prajurit ini memang tidak bermaksud menembak mati Musso, ia lari ke desa di dekatnya. Sementara itu pasukan-pasukan bantuan di bawah Kapt. Sumadi telah datang. Musso bersembunyi di sebuah kamar mandi dan tetap menolak menyerah. Akhirnya ia ditembak mati. Mayatnya dibawa ke Ponorogo, dipertontonkan dan kemudian dibakar.
Ini dia buku yang bikin badan saya panas dingin bertahun-tahun. Bagaimana tidak, hampir enam tahun hidup dengan rasa penasaran, meng- obok-obok hampir setiap toko buku saat pelesir di negeri orang, tapi tetap saja nihil. Orang-Orang Di Persimpangan Kiri Jalan salah satu karya Soe Hok Gie tentang pemberontakan PKI di Madiun. Fakta yang bertutur layaknya novel sejarah dramatis yang mencenangkan. Gie berhasil meramu-nya dengan objektifitas tingkat tinggi, tanpa tendensi. Keren.., satu-satunya kata yang paling tepat mendeskripsikan analisis seorang Soe Hok Gie. Baginya sejarah tetap fakta suci dengan posisi terhormat.yang harus tetap terjaga. (Edisi pertama buku ini diterbitkan oleh Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta pada Januari 1997 dan saya belum juga menemukannya).
Yah, Gie adalah kontroversi, hampir semua mengenalnya dengan sebutan itu. Tulisan-tulisannya adalah molotov grafis di tahun 60-an. Menyentil dan jujur. Aktif di sejumlah media massa seperti Kompas, Harian Kami, Sinar Harapan, Mahasiswa Indonesia, dan Indonesia Raya. Hingga saat ini, hampir sepertiga dari keseluruhan tulisan yang pernah dibuat Gie telah dibukukan. Secara lengkap, kondisi tahun 60-an, era peralihan kekuasaan Soekarno ke Soeharto dibukukan dalan Zaman Peralihan. Ful berisi kritikan tajam pada pemerintah, secara gamblang membeberkan ketimpangan-ketimpangan kebijakan para pelaku ketidakadilan. Sudah jadi kebiasaan Gie, menyebutkan nama para pelaku, bukan inisial. Positifnya masyarakat tidak mengalami dualisme keadaan, pun keadaan mesti mereka-reka maksud setiap pemberitaan. Negatifnya, Gie dielukan sekaligus ditakuti. Sederhananya, dia hidup bersama terror orang-orang yang disebut-sebut dalam tulisannya.

Tidak mau di-cap setengah-setengah Gie tetap idealis dengan gaya tulisan dan bertuturnya. Hidup adalah menulis, seolah-olah telah menjadi prinsipnya. Bahkan skripsi sarjana mudanya menarasikan satu periode krusial sejarah Indonesia, tepat ketika gagasan kebangsaan mulai disemaikan dalam raga-raga organisasi. Skripsi tersebut dibukukan dalam “Di Bawah Lentera Merah” yang diterbitkan oleh Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta tahun 1999. Buku sederhana dengan isi luar biasa, memotret gagasan transformasi Indonesia dari wacana tradisional ke wacana modern. Juga mencatat kisah nyata dari saksi hidup Semaun dan Darsono tentang pemberontakan PKI 1926/1927 termasuk asal mula pergerakannya.
Yap, sudah enam tahun berlalu sejak pertama kali mengenal Soe dan kasmaran dengan tulisan-tulisannya. Enam tahun dengan penasaran dan ngiler pengen punya buku-bukunya. Meng-obok-obok hampir setiap toko buku dan nihil. Makassar bersih, tiga setengah tahun di kampung orang pun Cuma berhasil menemukan satu, Catatan Seorang Demonstran. Catatan harian penuh gejolak milik Gie. Betul-betul ful intrik dan emosi. Sedang yang tiga sepertinya benar-benar sudah tanpa jejak. Hm, semoga yang membaca tulisan ini, bisa berbagi link unduh, lokasi penjualan buku mungkin atau bahkan ada yang berbaik hati memberikan bukunya ke saya. Hehehehehh… (^_^).

5 komentar:

  1. Soe Hok Gie sekali lagi..
    buku, pesta dan cinta di alam bangsanya..


    nb: adakah yang bernagi kabar gembira alias tahu dimana bisa nemu orang-orang di persimpangan kiri jalan? toko buku atau link unduhnya.. :-0

    ReplyDelete
  2. Kebetulan saya jug suka hunting buku, tar kalo di surabaya pas nemu dikabarin deh...

    kalo hrgnya gak lebih dari seribu perak biar aku yg bayarin.. wkwkwkwkwkwk

    ReplyDelete
  3. saya suka filmnya. dan saya suka puisi di film itu. :D

    ReplyDelete
  4. @insan : okeh, sya tunggu kabar baiknya, san.
    beh, traktirnya di bawah seribu pak. hayya, sedekahnya ja blum cukup tuw, san. traktir yg kakap-an dikit lah. hahahahahh

    @ahmad: gie mmg mnginspirasi koq. entah visual, grafis, audio. apapun itu. senang skli bisa mngenalnya sklipun hanya dari bacaan2 acak.

    ReplyDelete

Kawan, silahkan tinggalkan jejak,,,

 

Friend List

Flickr Images