Tentang "Hidup adalah soal bagaimana menghadapi tanda tanya".

Coretan saya, pura-puranya Soe Hok Gie. ^^
Hari ini saya sok hebat, mencoba merunut kekompleks-an dan sistematika di kepala seorang Soe Hok Gie. Dan walhasil, nihil. Kepala Soe tak ubahnya rentetan balada kemanusiaan yang tak habis2nya. Berlabel moralis dengan etika absolut, bukan jenis moralis dgn etika bertanggung jawab. Sejenis spesies yang tidak akan membunuh, meskipun tahu sedang berhadapan dengan orang yang berniat membunuh. Ah, terlalu jauh.
Dimensi sok hebatku lagi-lagi bergeser, sedang interest pada ruang bahwa “Hidup adalah soal bagaimana menghadapi tanda tanya”. Yap, itu kata Gie dan rasa-rasanya memang begitu. Setiap pagi seseorang terbangun dengan “hari ini harus apa, bagaimana membuat hari ini hebat? Apa harus begini? Atau begitu? Semacam parade tanya yangg seakan telah mendapat nyawa abadi dari Sang Pencipta. Begitu membuka mata "blupp!!", seketika itu ia ada. Suka atau tidak, itu harga paten. Yg memilih tidak, harusnya makam solusinya.
Hm, gara-gara perihal tanda tanya, saya tergelitik memikirkan hal lain, tanda yg lain, titik, koma, seru, kutip, bukan sekedar tanda tanya. Pada akhirnya saya sampai pada sebuah kesimpulan. Hidup sejatinya seperti membaca, hari ini menyingkap lembaran awal untuk menamatkan hingga bab akhir, analoginya terlahir untuk menamatkan jatah hidup masing-masing. Setiap babnya bertemu paragraf tanpa tahu akan berjenis kelamin apa, suka kah? Atau duka? Yang pasti tetap penuh tanda baca. Satu-satunya hal yang bisa membuatnya menyenangkan adalah bahwa kita masih memiliki hak penuh untuk mengatur intonasi. Layaknya sebuah pengaturan mobilitas usaha menghadapi kondisi yang ada. Sesekali bertemu koma, berhenti sejenak menimbang-nimbang apa langkah ini benar dengan situasi ini, atau harus memilih jalan lain. Atau mungkin memang harus terus melaju dan berhenti pada titik. Tempat yang tepat untuk bernafas lega. Kemudian masuk awalan baru, dengan semangat baru dan kontruksi yang lebih mantab untuk kondisi yang diinginkan.
Entah sudah jadi rumus apa tidak, tapi sepertinya titik dan koma hadir lebih banyak pada paragraf duka. Apa karena saat berduka, cadangan emosi terbanyak adalah rapuh dan dekat dengan menyerah? Padahal bukan keinginan koma, titik pun tanda yang lain untuk hadir disana. Mereka tidak dikaruniai hak untuk memilih di paragraf mana mereka harus setor muka. Tidak peduli sedang membaca paragraf suka yang mengharu-biru, duka, bahkan yang memilukan sekalipun. Yang pasti, saya bersyukur karena masih punya titik dan koma, jeda “Ruang Bebas” yang dianugerahkan Sang Pencipta untuk sepenuhnya diolah oleh setiap dari kita. Koma untuk berpikir sejenak, dan titik untuk nafas lega. masuk pada persiapan memulai paragraf pun bab yg baru. Hm, apa kira-kira Gie bakal sependapat dengan saya?? ^^
Soe Hok Gie, makhluk berspesies tanpa tendensi ini benar-benar berhasil mengambil alih kendali zona aman dunia saya. Seperti sejumput petasan, mendengar bunyinya, engkau juga ikut terpekak. Dan berhasil kawan, ucapanmu menggelitik saya memikirkannya. Saya dikendalikan petasan seorang Gie, dan benar-benar sedang kasmaran dengan kepalanya. (Yapz, Gie Si Molotov Ide).

4 komentar:

  1. benar2 sedang jatuh cinta dengan Gie tampaknya... :D

    ReplyDelete
  2. Jadi Pengen Nonton Pilm Nya lagi..hihihi

    ReplyDelete
  3. @zulham : sya bermimpi, bertemu, jatuh cinta dan tidak terbangun2. :D

    @sandy57: iya, Gie mmg keren. bukan cuma filmnya, tp buku2nya sungguh melumat animo sy.

    ReplyDelete
  4. sy tidak tau mau berkata apa tentang tulisan ini.. sy tidak begitu mengenal sosok Gie.. koma dan titik.. ya.. mengatur nafas untuk kembali menghadapi tanda tanya.. :)

    ReplyDelete

Kawan, silahkan tinggalkan jejak,,,

 

Friend List

Flickr Images