Fahd Djibran, Semesta Sebelum Dunia

Selalu ada cerita yang menyertai janin yang tumbuh di dalam rahim seorang perempuan. Rahim, dari sedikit sekali uraian ilmiah tentangnya, seseungguhnya adalah sebuah misteri yang amat besar. Semesta yang seolah-olah memiliki kehidupannya sendiri.
~Fahd Djibran

Begitu kalimat pembuka BAB 1 dari buku ini, dan entah kenapa, tetiba membawa damai disini. Tetiba itu juga, ekspektasi saya naik secara positif.
Semesta Sebelum Dunia ~ Fahd Djibran
Judul : Semesta Sebelum Dunia
(Sebuah dongeng tentang alam rahim)
Penulis : Fahd Djibran
Penerbit : Noura Books
Tebal : 233 halaman

Seperti judulnya, semesta sebelum dunia, buku ini cukup intens dan ringkas mengisahkan fase-fase dan kejadian-kejadian hingga seorang manusia lahir di dunia. 9 bulan usia kehamilan berhasil dipetakan dalam 233 halaman. Cukup lengkap dengan data-data ilmiah, dan kejadian-kejadian pertumbuhan janin per minggunya. Paragraf ini seem likes, ini buku literatur yah. :D 

Tenang saja, ini bukan literatur, masih novel. Saya iseng menuliskan semacam komentar insidentil saat membaca buku ini di tumblr saya. Menamatkan Bab awal, saya menulis seperti ini :
Bab 1, asli sinetron. Tetiba paragraf penutup, seperti ada yang "runtuh"
Betul, sangat sinetron. (Bab 1 ini judul bab-nya "Cerita"). Saya sudah duluan sinis, tetapi ketika mendapati kalimat  "...... dan kamu yang diam-diam menyalakan kehidupan di rahim ibumu....", seperti ada yang runtuh, entah apa. Tidak banyak yang bisa saya ceritakan, tidak banyak yang bisa saya simpulkan. 

Over all, saya merasa terhakimi membaca bagian demi bagian di buku ini. Lucunya, saya merasa tenang-tenang saja dibuat "nrimo" untuk dihakimi terus-menerus. Saya tidak sedang mengatakan kalau saya suka buku ini, hanya saja di beberapa titik saya menemukan beberapa hikmah yang hangat. Seperti menemukan sesuatu yang sangat dirindukan. Entah apa. 

Bagian tidak nyamannya, saya sedikit kurang sreg dengan penuturannya, bisa jadi karena buku ini diluar genre bacaan saya biasanya. Maybe.

Tapi saya sedang mencari hikmah, itu sudah cukup menjadi alasan untuk bertahan mengkhatamkan sebuah buku. Tidak butuh waktu lama, saya mulai membacanya belum lewat 2 jam lalu. Setidaknya saya sempat mencatat beberapa bagian yang cukup membuat saya merasa " ini seperti membaca berlembar-lembar surat yang sengaja ditulis untukmu", seperti :

  • Alam rahim, kau tentu pernah mendengarnya : sebuah tempat dimana setiap orang pernah ke sana, tetapi melupakannya. (Hal 22-23)
  • Jangan berfokus pada tempat kau berangkat, berfokuslah pada tempat yang kau tuju. Orang-orang selalu berfikir dari mana mereka berasal, tanpa berfikir kemana mereka pergi (Hal 72)
  • Rasa adalah persepsi. Ia memiliki batasnya sendiri. Dalam ukuran tertentu, ia bisa menjadi enak, tetapi dalam ukuran yang lain ia bisa jadi sangat tidak enak. (Hal 84)
  • Dan jeda membuat kita melihat ke dalam diri kita sendiri. Itu yang penting. (Hal 97)
  • Tak ada yang bisa menghentianmu. Kecuali jika kau menghentikan dirimu sendiri. Banyak orang mengira cita-citanya dihambat, tapi sebenarnya tidak ada yang bisa menghambat cita-cita kita kecuali diri kita sendiri. Mereka yang merasa cita-citanya terhambat karena orang lain sebenarnya sedang secara aktif turut serta menghambat diri mereka sendiri. (Hal 104)

Feel after read >> "oh, jadi begitu toh ceritanya". Tidak lebih. 2 bintang dari 5. Ekspektasi saya kembali stabil. ^^

Random. 
Memulai kasmaran lagi dengan blog yang ini setelah ditinggal lama, sumpah, susah.

0 komentar:

Post a Comment

Kawan, silahkan tinggalkan jejak,,,

 

Friend List

Flickr Images