Tuhan begitu baik memperlihatkan ini padaku!!!!

Sat, 3 Jan ‘09
03.02, waktu jatinangor
(catatan kecil dari tumpukan memori)

Aku masih belum terlelap, ketika bunyi kretek-kretek roda beradu dengan aspal mengganggu bacaanku. Iseng aku melihat keluar jendela. Sedikit terkejut, ternyata sepagi ini Trotoar depan kosku begitu ramai. Ramai dalam hening. setidaknya sudah 5 orang bapak tua yang lewat bersama gerobak penuh pokok-pokok bambu yg terikat rapi seperti rakit. Sedikit berlari mengimbangi laju gerobak di jalan menurun depan kosku. Tubuhnya terlihat kecil diantara pokok-pokok bambu sepanjang puluhan meter. Kuluaskan pandanganku, di seberang jalan warung-warung tenda juga masih tegak. Entah sampai kapan ia masih kuat menahan dinginnya manglayang. Sedang aku, terbungkus jaket, sarung dan dua susun selimut tapi masih kalah dengan dingin. Seperti diktatorian, ia masih menyeruak tanpa kompromi. Ku kembali menekuni buku, tapi bunyi ketek-kretek itu kembali mengusikku.

Sekali lagi kutengok keluar sana. Penjaga warung tenda itu mulai gelisah. Menimbang-nimbang mesti berkemas atau tidak. Sedang tubuh hanya berbungkus kaos oblong lusuh. Aku berani bertaruh, kaos itu tipis, paling dari loakan jenis kain nomer sekian. Sejenak aku diam, ia mulai terbatuk dan bersin. Detik itu aku tahu, ia tak mampu lagi menahan dingin manglayang. Detik kemudian dengan susah payah kulihat ia mulai menurunkan tendanya.
Aku bergeser ke jendela depan.., penasaran dengan suara roda beradu dengan aspal yang tiba-tiba terhenti. Dan benar saja. Di trotoar depan sana tiga orang paruh baya sedang mengipas penuh letih. Topi merah lusuh bapak tua itu, entah sejak kapan beralih fungsi. Berharap meraup sedikit angin dari kibasannya yang melambat. Malam, dingin, sepagi ini, di luar sana begitu banyak yang bersimbah keringat sedang aku?!! Aku begitu manja dengan berlapis-lapis kain penghangat. Bersembunyi dengan sempurna dari sisi ini. Tuhan, Engkau begitu baik memperlihatkan ini padaku. Gadis kecil yg hampir terlupa dengan bangsanya.
Inilah Indonesiaku, kotak kecil dari hidup ribuan manusia yang masih seperti dulu, berlomba dengan waktu demi sesuap nasi. Terima kasih Tuhan, Engkau begitu baik memperlihatkan ini padaku...


aci_cz

14 komentar:

  1. baca artikel kamu, kya lgi baca novel :p,, tpi kereen, tulisan'y begitu nyata, seolah saya emng berada di antara di sana.. :)

    ReplyDelete
  2. makasih stroomz, lgi belajar nulis mmg.. :D

    ReplyDelete
  3. suka gaya bahasanya.. keren chi...

    ReplyDelete
  4. :(( sediihhh bacanya,,
    terimasih juga tuhan....
    #tulisan yang bagus

    ReplyDelete
  5. bagus permainan katanya ...so pasti ceritanya....mantaps....

    ReplyDelete
  6. thankz all, ini memang kisah nyata..

    indonesia kita..:(

    ReplyDelete
  7. aku cuma bisa tersenyum kecut baca ini...... :), thanks....

    ReplyDelete
    Replies
    1. bayangkan perasaanq saat itu mas. seperti cucian yg diremas2, dibanting sebelum dijemur di bawh terik matahari.
      #lebay

      Delete
  8. Itulah bangsa kita mbak... ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. mirisnya sya, krena kontradiksi yg sedemikian hebat setelah sya membandingkan diri sendiri dgn apa yg dilakukan bapak2 itu. saat itu rasanya benar2 malu. org lain sedang smngat2nya berbuat demi sesuap nasi, sdang sya berleha2 dgn nyaman.

      benar2 berterima kasih, Allah memperlihatkan ini pada saya. :)

      Delete
  9. Cerdas Aci.
    Karena kamu dengan cepat menyadari bahwa ini adalah ilmu dariNYA.
    Tidak salah ruang ini dinamakan "Ruang Waras". :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. ruang waras. hahahhahah...
      ya..ya...ya... sya mmg cerdas koq. wkkwkwkkk

      Delete
    2. Alhamdulillah..
      Tidak lagi berkeliaran di tengah malam tuk memangsa warga-warga BLOOF.. :D

      Delete
    3. Alhamdulillah..
      Tidak lagi berkeliaran di tengah malam tuk memangsa warga-warga BLOOF.. :D

      Delete

Kawan, silahkan tinggalkan jejak,,,

 

Friend List

Flickr Images