Ini kotak Pandoraku.

Ada sebuah bandusa, berkunci emas berlapis perak. Pemiliknya bukan orang biasa, berjari enam di setiap anak anggota geraknya. Mungkin reinkarnsi “parang jati”-nya Ayu Utami. Tapi dia tidak mencintai sebul, hanya mencintai bandusa. Wujud symbol yang ia percaya sebagai kotak Pandora.
Kemarin ia berceritera kepadaku,
“Ini kotak pandoraku. Isinya bukan dosa, benih marah, biji salah paham ataupun buah kedzaliman. Isinya cincin, berlingkar jari 12. Permatanya bukan rubi tapi pualam gunung kidul. Berbadan pasir dari tanah sekaliber Babylon dan Aztec. Setiap kota terwakilkan dalam 9 butir. Tulang cincinnya dari meranti 13 warna. Sudah dapat jampi-jampi dari 7 juru kunci merapi nusantara.”
“Tau kau apa gunanya? Besok kalau aku pakai cincin ini, pelosok negeri akan mengagungkanku. Tau kau kenapa? Karena satu butir pasirnya bisa member makan setiap tangan yang tertengadah, setiap saat, kapan pun, dan tidak akan habis”.
“Yang hitam bisa menyembuhkan 1000 penyakit di setiap tempat berbeda. Yang merah, mematikan amarah dan menggantikan damai”.
“Hm, kau tahu yang biru itu. Kalau kau lepas dia, kau akan tahu bagaimana tangan Rasulullah merangkul manusia san mengenalkan cahaya”.
“Nah, simpanlah di brankasku. Jangan kau buat dia lecet sedikitpun, aku akan menunggu purnama ke tujuh esok malam. Aku akan berfusi dengan venus, mengaktifkan cincin pualam gunung kidul-ku. Kau akan kuangkat jadi ajudanku nanti”.
Hanya satu anak jarinya yang memegang bandusanya. Jari antara tengah dan manis. Anak jari parang jatinya-nya Ayu Utami, seperti yg kubilang tadi. Dia mengangguk dan aku pergi. Sembari memastikan telunjuk dan jempolku masih menyatu.
…..
Pantai selatan lima meter di depanku. Hanya aku dan botol aqua di tanganku. Pasir kemarin sudah berubah cairan pelangi di botol aqua. Sekarang tugas laut, pikirku. Aku yakin, Neptunus dan Roro Kidul bisa kompromi tentang ini.
(Di ujung peluhku, kulihat anak-anak negeri tersenyum. Dekat…, sedekat pantulan belati di genggaman parang jati-nya Ayu Utami yang nanar di belakangku.)
“Hm, aku harus bergegas……….”.

aci_cz

2 komentar:

  1. saya kagum dengan gaya penulisannya.......ide yg diangkat jg, seperti membaca novel eropa........tawwa.....mariki'....salut

    ReplyDelete

Kawan, silahkan tinggalkan jejak,,,

 

Friend List

Flickr Images